VISI | Paham Agama dan Politik
Oleh Aep S Abdullah
ADA sebuah lelucon di kalangan warga Nahdlatul Ulama (NU): ketika seorang kepala daerah dari NU berkuasa, tiba-tiba banyak pejabat yang mendadak memiliki Kartanu (Kartu Tanda Anggota Nahdlatul Ulama). Lucunya, ketika mereka diminta membaca doa Qunut atau Tahlil, mereka malah gagap dan akhirnya terpaksa belajar ke kiai-kiai NU. Begitu pula sebaliknya, jika seorang pemimpin dengan paham berbeda yang naik, tiba-tiba suasana keagamaan di daerah itu berubah drastis.
Fenomena ini menunjukkan betapa politik bisa memengaruhi praktik keberagamaan seseorang. Padahal, Islam mengajarkan bahwa agama adalah sesuatu yang harus berakar kuat dalam keyakinan, bukan sekadar mengikuti arus kekuasaan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
"Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebatilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, sedang kamu mengetahuinya." (QS. Al-Baqarah: 42)
Namun, realitasnya, banyak orang yang ‘menyesuaikan diri’ dengan kondisi politik demi kenyamanan atau bahkan demi jabatan. Bukankah ini yang sering terjadi? Hari ini mereka pakai sarung dan peci, ikut sholawatan dan tahlilan, besoknya bisa jadi mereka yang paling kencang menyebut amalan itu bid’ah.
Dalam sejarah Islam, kekuasaan memang selalu berpengaruh terhadap pemahaman keagamaan. Sejak zaman Khulafaur Rasyidin hingga dinasti-dinasti Islam setelahnya, kita melihat bagaimana penguasa bisa mengangkat dan menyingkirkan ulama yang berbeda pandangan. Bahkan, ada ulama yang dipenjara hanya karena memiliki pendapat yang bertentangan dengan kebijakan penguasa.
Ketika Wahabi berkuasa di suatu wilayah, aturan keagamaan bisa berubah ketat. Tahlil, Maulid, dan Qunut bisa dilarang, bahkan pelakunya bisa dicap sesat. Sebaliknya, ketika NU yang dominan, ritual-ritual tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat dan seolah menjadi standar kebaikan seseorang.
Ini akan terus berlangsung selama kita tidak dewasa melihat perbedaan. Kata Gus Dur, "Tidak penting apa pun agama atau sukumu. Kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua orang. Maka orang tidak pernah tanya apa agamamu".
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!