VISI | Nahdlatul Ulama: Keteguhan Langkah di Tengah Samudara Khidmah

ED
Kamis, 23 Oktober 2025 | 09:56 WIB
Bagikan
VISI | Nahdlatul Ulama: Keteguhan Langkah di Tengah Samudara Khidmah

Oleh H. Dien At-Tasiki

DALAM lautan luas kehidupan beragama dan berbangsa, Nahdlatul Ulama (NU) ibarat kapal besar yang berlayar dengan kompas nilai: keikhlasan, kebersamaan, dan cinta tanah air. Sejak awal berdirinya, NU tidak hanya menjadi organisasi sosial-keagamaan, tetapi juga menjadi penjaga moral, penjaga kebangsaan, serta penuntun arah bagi umat Islam Indonesia dalam mengarungi dinamika zaman. Kapal besar ini tidak sekadar berlayar, melainkan membawa visi luhur: menjaga warisan ulama dan memperjuangkan kemaslahatan umat.

Panduan langkah warga NU berpijak pada tiga pilar utama yang kokoh: tafaqquh fid-din, khidmah lil ummah, dan hubbul wathan minal iman. Ketiganya adalah tali temali yang saling menguatkan, menjadikan NU tidak mudah goyah meski diterpa berbagai badai ideologi, ekonomi, maupun politik. Di tengah gelombang perubahan global, panduan ini menjadi jangkar spiritual sekaligus etika sosial bagi setiap nahdliyyin.

Pertama, tafaqquh fid-din berarti memperdalam ilmu agama dengan adab dan ketulusan. Dalam tradisi NU, belajar tidak berhenti pada hafalan dan dogma, tetapi dihidupi dengan rasa takzim kepada ilmu dan ulama. Kyai dan santri bukan hanya simbol pendidikan, tetapi juga teladan kehidupan. Dalam dunia yang makin tergesa, NU menegaskan pentingnya menuntut ilmu secara berjenjang, menghormati sanad keilmuan, dan mengamalkan ilmu dengan kasih. Ilmu, bagi NU, bukan sekadar untuk kepentingan diri, tapi untuk menebar manfaat.

Kedua, khidmah lil ummah menjadi wujud nyata dari ajaran Islam rahmatan lil ‘alamin. Setiap amal, sekecil apa pun, adalah bentuk pelayanan untuk umat. Dari pengajaran di surau kecil hingga perjuangan sosial di pelosok negeri, dari mengajar anak yatim hingga menjaga harmoni antarumat beragama — semuanya adalah bentuk khidmah. Di sini, NU hadir bukan sebagai penguasa, tetapi sebagai pelayan umat; bukan untuk menuntut penghormatan, tetapi untuk memberi kebermanfaatan.

Ketiga, hubbul wathan minal iman — mencintai tanah air sebagai bagian dari iman. Kalimat ini bukan sekadar slogan, tetapi prinsip perjuangan yang telah dibuktikan para ulama NU sejak era perlawanan terhadap penjajah. Cinta tanah air bagi NU tidak bertentangan dengan cinta agama, melainkan justru menjadi bagian dari pengamalan iman. Dalam konteks kini, mencintai tanah air berarti menjaga persatuan, menghormati perbedaan, dan berpartisipasi aktif membangun bangsa dengan cara-cara yang beradab.

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.