Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026 4 Kelompok Akan Demo 27 Agustus di Jakarta, Ini Daftar Tuntutannya 26 Aug 2026 Soal Pernyataan Budi Arie, TB Hasanuddin Beri Sindiran Menohok 26 Aug 2026 Revaldo Jadi Tersangka Kasus Narkoba untuk Keempat Kalinya 26 Aug 2026 Baznas Beri Beasiswa untuk 1.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026 4 Kelompok Akan Demo 27 Agustus di Jakarta, Ini Daftar Tuntutannya 26 Aug 2026 Soal Pernyataan Budi Arie, TB Hasanuddin Beri Sindiran Menohok 26 Aug 2026 Revaldo Jadi Tersangka Kasus Narkoba untuk Keempat Kalinya 26 Aug 2026 Baznas Beri Beasiswa untuk 1.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT 26 Aug 2026

VISI | Menjaga Marwah Pemimpin

ED
Kamis, 29 Mei 2025 | 05:48 WIB
Bagikan
VISI | Menjaga Marwah Pemimpin

Oleh Drajat

DALAM budaya tutur masyarakat kita, dikenal istilah bijak: “Jangan beli kucing dalam karung.” Sebuah metafora sederhana, namun memiliki makna dalam—bahwa sebelum memilih atau memutuskan sesuatu, kita perlu mengetahui terlebih dahulu hakikat atau isi dari yang akan kita pilih. Bila tidak, bisa-bisa kita tertipu oleh kemasan yang tampak indah, namun isinya jauh dari harapan. Ungkapan ini sangat relevan dalam banyak aspek kehidupan, termasuk dalam memilih pemimpin—terlebih pemimpin di lembaga pendidikan, seperti organisasi profesi guru, lembaga masyarakat pendidikan, forum musyawarah sekolah, atau bahkan dalam ranah lebih luas seperti PGRI. Seiring dinamika sosial yang semakin kompleks, pemilihan pemimpin tidak lagi hanya berbasis figuritas atau kedekatan, tetapi juga harus mempertimbangkan rekam jejak, kapasitas, integritas, dan kematangan visi. Sayangnya, praktik di lapangan tidak selalu demikian. Tak jarang kita menyaksikan pemilihan yang sarat kepentingan politis, akomodasi kekuasaan, bahkan intervensi dari luar sistem yang seharusnya independen. Di era digital, jejak seseorang nyaris tak bisa ditutupi. Apa yang dilakukan di masa lalu, apa yang ditulis, dikatakan, atau bahkan dibagikan melalui media sosial menjadi rekam jejak yang bisa diakses dan dikaji. Maka, memilih seseorang dalam posisi penting seperti Ketua organisasi pendidikan—baik PGRI, forum sekolah, atau lembaga lainnya—harus didasarkan pada pertimbangan objektif, bukan hanya berdasarkan keinginan segelintir orang atau hasil lobi politik. Mengapa ini penting? Karena lembaga pendidikan adalah tempat bertumbuhnya nilai, etika, dan integritas. Bila pemimpinnya dipilih tanpa seleksi yang tajam, tanpa telaah yang cermat terhadap rekam jejaknya, maka jangan salahkan jika hasilnya jauh dari harapan. Pemimpin yang tidak tahu akar permasalahan dunia pendidikan, yang tidak pernah turun ke bawah merasakan denyut nadi guru di pelosok atau masalah lainnya, tidak akan bisa membuat kebijakan yang menyentuh. Pemimpin sejati lahir dari proses panjang. Ia bukan titipan, bukan pula pesanan. Ia adalah sosok yang tumbuh bersama akar rumput, memulai dari ranting, naik ke cabang, terus ke daerah hingga ke pusat. Proses ini tidak hanya membentuk kepiawaiannya dalam memimpin, tetapi juga menumbuhkan sense of belonging terhadap organisasi yang dipimpinnya. Ia tahu betul suka duka perjuangan di bawah, karena ia pernah mengalaminya. Sayangnya, masih ada pihak-pihak yang mencoba menggampangkan proses ini. Mereka lebih memilih jalan pintas—mengangkat seseorang secara instan, tanpa sejarah, tanpa kontribusi nyata. Akibatnya, organisasi hanya menjadi alat legitimasi kekuasaan, bukan rumah besar bagi guru dan pendidik untuk mengembangkan kapasitas profesionalnya. Memilih pemimpin pendidikan bukan soal popularitas. Ia harus punya blueprint pemikiran, gagasan segar, solusi konkret terhadap persoalan pendidikan yang kompleks. Ia bukan hanya hadir di podium, tetapi juga ada di barisan paling depan ketika pendidikan mendapat tantangan, mulai dari kebijakan yang tumpang tindih, ketimpangan sarana, hingga ketidakadilan honorarium guru honorer. Apalah artinya pemimpin jika hanya hadir saat seremoni, tapi abai terhadap jeritan guru honorer? Apalah artinya pemimpin jika hanya hadir di acara rapat, tetapi tak mengerti perjuangan guru di sekolah terpencil? Pemimpin harus hadir sebagai penguat semangat, pemberi solusi, dan penggerak perubahan. Organisasi profesi guru seperti PGRI adalah rumah kita bersama. Ia bukan milik satu kelompok, bukan milik elite, apalagi milik pejabat yang ingin memperpanjang pengaruhnya. Maka, seluruh anggota harus melek organisasi, melek dinamika politik internal, serta punya keberanian untuk bersuara bila ada upaya kooptasi atau intervensi yang mengancam integritas organisasi. Pengurus yang sudah solid tidak boleh takut untuk menyampaikan pendapat. Mereka tidak boleh terintimidasi oleh tekanan kekuasaan atau ‘titipan’ calon pemimpin. Inilah saatnya kita dewasa secara organisasi: bahwa memilih pemimpin adalah soal tanggung jawab moral, bukan transaksi politik. Marwah organisasi pendidikan terletak pada kualitas kepemimpinan di dalamnya. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari karena memilih pemimpin yang tak sesuai harapan, hanya karena kita "membeli kucing dalam karung". Mari kita belajar dari pengalaman, gunakan akal sehat, telaah rekam jejak, uji gagasan, dan dengarkan aspirasi akar rumput. Jangan diam. Jangan apatis. Karena masa depan pendidikan, salah satunya ditentukan oleh siapa yang memimpinnya. Organisasi besar dibangun oleh keberanian memilih yang tepat. Mari bersama menjaga marwah lembaga kita.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.