VISI | Menjaga Kewarasan
Dan ketika anak muda bersuara, mereka dibungkam. Ketika anak muda memprotes, mereka dicap pengganggu. Ketika anak muda mengingatkan, mereka dituduh tidak sopan kepada yang tua. Padahal sesungguhnya, generasi muda itulah yang sedang menjaga kewarasan bangsa ini dari kehancuran moral, ekologis, dan intelektual.
Kehilangan Kewarasan
Sulit menolak kesimpulan bahwa negeri ini sedang berada di tikungan berbahaya. Tiap hari kita melihat tanda-tanda ketidakwarasan kebijakan publik: Sawit disebut sebagai tumbuhan hutan—dan hadirin bertepuk tangan. Ruang publik tersandera kepentingan keluarga dan kelompok. Hukum bekerja keras bukan untuk mencari kebenaran, tetapi mencari pembenaran. Bencana alam dianggap takdir, bukan akibat dari tangan-tangan serakah. Kebijakan pendidikan berubah sesering pergantian menteri. Kepala dinas pendidikan dipilih bukan berdasarkan kompetensi, tetapi kedekatan dan kesetiaan politik.
Dalam kondisi seperti ini, pertanyaan sederhana anak didik kita menjadi tamparan: “Pak, kok pemimpinnya bilang begitu? Bukannya salah?” Bagaimana guru harus menjawab—ketika kebenaran ilmiah dibanting oleh kesombongan kuasa?
Jika negeri ini ingin tetap waras, maka satu-satunya pintu adalah pendidikan. Pendidikanlah yang mampu menumbuhkan nalar, melatih kebijaksanaan, menanamkan adab, dan menegakkan moralitas.
Namun, pendidikan kita justru kerap dijadikan percobaan tanpa henti—dari kurikulum, metode, sistem evaluasi, hingga model pelaporan. Seolah-olah pendidikan adalah laboratorium pribadi para pengambil kebijakan yang ingin meninggalkan jejak kepemimpinan.
Sementara itu, persoalan paling mendasar tak pernah disentuh: SDM pendidik, kualitas manajemen sekolah, ketepatan menempatkan pemimpin pendidikan, dan keberanian menindak mereka yang merusak integritas sekolah.
Kita lupa bahwa keberhasilan pendidikan tidak ditentukan oleh dokumen setebal kurikulum, tetapi oleh orang-orang yang menjalankannya. Dan ketika kepala dinas pendidikan dipilih bukan karena kompetensi, tetapi karena kedekatan politik, kita sedang menandatangani kontrak keterpurukan bersama. Bangsa yang besar adalah bangsa yang berani mempercayakan masa depannya pada generasi muda. Mereka bukan beban, mereka adalah aset. Mereka bukan murid yang harus diam, mereka adalah pemimpin masa depan yang sedang dipersiapkan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!