VISI | Menjadi Guru, Bukan Sekedar Mengajar
Salah satu titik kritis penulis terjadi ketika dipindahtugaskan ke sebuah sekolah dengan kondisi fisik yang sangat terbatas. Bangunannya reyot, siswanya sebagian besar dari keluarga prasejahtera, dan minat belajar sangat rendah. Penulis sempat berpikir, apakah masih ada harapan di tempat seperti ini? Apakah usaha penulis akan berarti?
Namun, setiap kali hendak menyerah, penulis ingat satu hal: penulis adalah satu-satunya harapan yang dimiliki anak-anak di sana. Jika penulis pergi, siapa lagi yang akan tinggal? Maka penulis memutuskan untuk tetap bertahan. Sedikit demi sedikit, penulis mulai mengubah cara mengajar, membuka ruang diskusi dengan orang tua, bahkan mencari donatur pribadi untuk memperbaiki sarana belajar.
Titik kritis berikutnya terjadi saat menjalani studi doktoral. Dengan dana terbatas dan tanggung jawab pekerjaan yang tak pernah berhenti, penulis nyaris putus asa. Total biaya untuk menyelesaikan studi ini mencapai lebih dari dua ratus juta rupiah — jumlah yang nyaris tak terjangkau bagi seorang guru biasa. Tapi penulis tidak menyerah. Penulis menulis, meneliti, dan bekerja keras. Pengalaman penulis sebagai penulis menjadi penolong besar. Dari situ penulis belajar bahwa menulis bisa menjadi jalan keluar dari tekanan finansial — dan lebih dari itu, menjadi sarana berbagi gagasan.
Akhirnya penulis lulus dengan predikat cumlaude, bahkan menjadi yang terbaik dari 180 mahasiswa S3. Sebuah pencapaian yang bagi penulis bukan soal gelar, melainkan soal membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang. Tekad, kerja keras, dan keberanian mengambil langkah adalah kunci untuk melampaui batas.
Dalam perjalanan panjang itu, tak sedikit tantangan yang harus dihadapi. Mulai dari keterbatasan sarana, lingkungan yang belum mendukung pendidikan, hingga perubahan kebijakan yang datang silih berganti. Namun, satu hal yang tak pernah pudar adalah keyakinan: bahwa di tangan guru yang berniat baik, masa depan bisa diukir ulang.
Penulis pernah dipercaya menjadi kepala sekolah terbaik. Sebuah pencapaian yang membanggakan, namun bukan itu puncak segalanya. Justru setelahnya, pilihan diambil: untuk mengabdi di sekolah yang kecil, terpencil, dan masyarakatnya masih jauh dari akses kemajuan. Mengapa? Karena di sanalah guru dibutuhkan bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai penerang.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!