VISI | Mengambil Hikmah dari Kerusuhan di Perancis

ED
Kamis, 6 Juli 2023 | 02:54 WIB
Bagikan
VISI | Mengambil Hikmah dari Kerusuhan di Perancis

Kedua, kesulitan dan krisis / resesi ekonomi global yang melanda Eropa pasca terjadinya peperangan Rusia vs Ukraina, AS dan NATO menyebabkan biaya hidup yang tinggi, kelangkaan gas dan makanan sehingga suasana kebatinan masyarakat sedang tidak baik – baik saja. Kecewa dan marah bertemu di satu 'momentum' untuk dijadikan alasan dan pemakluman. Oleh karenanya, kesulitan ekonomi ini dimanfaatkan oleh sebagian pendemo sebagai kesempatan untuk melakukan pengrusakan, pencurian dan penjarahan besar - besaran terhadap banyak toko – toko, baik toko yang menjual pangan, sandang, maupun aksesori dan barang elektronik. Dampak ekonominya tentu kerugian besar yang belum terhitung.

Ketiga, adanya kelompok bertopeng yang serba hitam memanfaatkan situasi chaos untuk mencapai kepentingannya. Mereka merupakan kelompok anarkis sayap kiri jauh, yang dikenal sebagai 'Blok Hitam' atau 'Black Bloc' yang sering memicu dan inisiator aksi anarkis hampir dalam setiap unjuk rasa. Momentum 'rusuh' dijadikan pesta kegembiraan, kemeriahan dan kemenangan serta anti kemapanan.

Keempat, adanya kelompok mafia yang memanfaatkan situasi untuk merusak dan menerobos penjara guna membebaskan rekan – rekannya yang masih ditahan disana. Saat petugas keamanan disibukkan dengan situasi chaos, dijadikan kesempatan yang berharga untuk menjebol penjara sehingga bisa reunian dengan teman-temannya yang sudah lama ditahan.

Kelima, ada juga faktor kemarahan ribuan pekerja yang kecewa dengan kebijakan pemerintah, terutama terkait dengan rencana perubahan usia pensiun dari 62 ke 64 (reformasi masa pensiun) yang dianggap mengurangi hak untuk menikmati masa purna (masa tergabung dalam serikat pekerja sayap kiri).

Keenam, jualan gorengan isu – isu SARA yang bersifat super sensitif. Mobilitas kemarahan massa telah berhasil dieksploitasi dengan menggoreng ‘isu minoritas’, rasialisme, ketidakadilan, para imigran/ pendatang, kekejaman dan kebrutalan, serta kemiskinan dan masyarakat pinggiran yang termarginalkan. Kaum pendatang dan wong cilik seringkali disimbolkan sebagai rakyat kecil yang sering ditindas, dikerdilkan, dihinakan dan diperlakukan tidak adil.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.