Baznas Beri Beasiswa untuk 1.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT 26 Aug 2026 Ribuan ASN Dikerahkan Bersihkan Sisa Kebakaran Rumah Adat Sade 26 Aug 2026 Muktamar ke-35 NU Digelar di Jombang, Ini Jadwal Lengkapnya 26 Aug 2026 Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026 Green Canyon Pangandaran Diproyeksikan Jadi Destinasi Dunia 26 Aug 2026 Rekening AMPB Diblokir, Firnando: Pentingnya Klarifikasi Menyeluruh Pihak Terkait 26 Aug 2026 Masuk Desil 9 dan 10, Benarkah Tak Bisa Beli Pertalite? 26 Aug 2026 Jersey Baru Persib Diserbu Bobotoh, Pesanan Tembus 2.000 26 Aug 2026 Korban Tewas TPA Runtuh di Guinea Bertambah Jadi 34 26 Aug 2026 Baznas Beri Beasiswa untuk 1.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT 26 Aug 2026 Ribuan ASN Dikerahkan Bersihkan Sisa Kebakaran Rumah Adat Sade 26 Aug 2026 Muktamar ke-35 NU Digelar di Jombang, Ini Jadwal Lengkapnya 26 Aug 2026 Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026 Green Canyon Pangandaran Diproyeksikan Jadi Destinasi Dunia 26 Aug 2026 Rekening AMPB Diblokir, Firnando: Pentingnya Klarifikasi Menyeluruh Pihak Terkait 26 Aug 2026 Masuk Desil 9 dan 10, Benarkah Tak Bisa Beli Pertalite? 26 Aug 2026 Jersey Baru Persib Diserbu Bobotoh, Pesanan Tembus 2.000 26 Aug 2026 Korban Tewas TPA Runtuh di Guinea Bertambah Jadi 34 26 Aug 2026

VISI | Masih Adakah Pelita Pendidikan?

ED
Jumat, 18 Juli 2025 | 05:17 WIB
Bagikan
VISI | Masih Adakah Pelita Pendidikan?

Oleh Drajat

TULISAN sebelumnya yang berjudul "Zalim Pendidikan" sedikit banyak telah menggugah berbagai pihak. Ada yang menyambutnya dengan dukungan, tak sedikit pula yang gelisah bahkan gusar. Terutama mereka yang merasa tersindir atau terganggu dengan isi tulisan tersebut. Wajar, di negeri ini mengkritisi kebijakan atau praktik pendidikan yang menyimpang kadang dianggap bentuk pembangkangan. Padahal, sejatinya kritik adalah vitamin bagi perubahan dan kemajuan. Namun tidak mengapa. Penulis tersenyum saja. Tulisan ini pun penulis lanjutkan sebagai bentuk cinta pada dunia pendidikan, bukan karena kebencian pada siapa pun. Kini, saya ingin bertanya: Masih adakah pelita pendidikan? Dalam kegelapan yang kadang menyelimuti arah kebijakan pendidikan kita, dalam tumpukan regulasi yang lebih membingungkan daripada menuntun, dan dalam hiruk pikuk kepentingan pragmatis yang menenggelamkan idealisme, pertanyaan itu terus menggema. Apakah masih ada guru yang berjalan dengan cahaya dari dalam jiwanya, yang tetap menyalakan pelita pendidikan, walau diterpa angin tekanan dan intimidasi? Jawabannya: Ya, masih ada. Masih banyak guru yang datang ke sekolah lebih pagi dari matahari, menyambut peserta didik dengan senyum, sekalipun perutnya belum tentu terisi dengan cukup. Masih ada guru yang menyusun RPP bukan sekadar formalitas untuk memenuhi kelengkapan administrasi, tapi karena ingin anak-anaknya benar-benar belajar dengan cara yang bermakna. Masih ada kepala sekolah yang jujur, yang tidak mengutak-atik dana BOS, yang lebih senang melihat perpustakaan sekolah penuh buku baru daripada membeli meja kerjanya yang megah. Mereka adalah para penjaga pelita pendidikan. Meski sistem kadang memojokkan mereka. Meski birokrasi menekan idealisme dengan tumpukan laporan dan data yang tak berkesudahan. Meski atasan mereka lebih senang guru yang nurut daripada guru yang jujur. Tapi guru-guru ini tetap berdiri. Mereka tidak gila pangkat, tidak haus proyek, tidak ingin jadi selebritas media. Mereka hanya ingin anak-anak tumbuh menjadi manusia seutuhnya. Adalah hal yang menyedihkan ketika guru yang kritis, yang berani menyuarakan kebenaran, justru dianggap musuh. Sementara mereka yang diam, meski tahu ada penyimpangan, justru dianggap loyal. Loyalitas dalam sistem pendidikan kita, seolah berarti: diam, manut, dan ikut arus. Padahal, di sinilah letak masalahnya. Ketika suara-suara jernih dikerdilkan, maka yang tumbuh bukan budaya berpikir, tapi budaya takut. Namun, penulis masih percaya: pelita itu belum padam. Di sudut-sudut sekolah, di lereng-lereng desa, di pinggiran kota, guru-guru hebat masih menyala. Mungkin bukan dengan cahaya terang benderang, tapi dengan pelita kecil yang cukup untuk menerangi jalan anak-anak didiknya. Mereka tidak masuk televisi, tidak viral di media sosial, tapi setiap hari mereka menanamkan nilai, menumbuhkan karakter, dan menghidupkan harapan. Dan kita harus menjaganya. Pemerintah, para pemangku kebijakan, hingga masyarakat luas harus mulai mendengar mereka yang jujur, bukan hanya mereka yang pandai bicara. Harus berani menyokong guru-guru yang punya integritas, bukan yang hanya pandai mencari muka. Harus mulai percaya bahwa pendidikan sejati dibangun dengan hati, bukan hanya dengan program dan proyek. Kepada para guru di seluruh Indonesia, tulisan ini adalah salam hormat. Teruslah menjadi pelita. Teruslah menyalakan semangat belajar dan mengajar, meski kadang jalan yang ditempuh begitu terjal. Percayalah, cahaya yang kita nyalakan hari ini, akan menjadi fajar bagi masa depan bangsa ini. Dan kepada para pemimpin yang masih punya nurani, tolong jangan padamkan pelita-pelita itu. Jangan halangi mereka yang ingin membawa perubahan. Sebab, jika semua pelita padam, maka yang tersisa hanyalah kegelapan. Dan dalam gelap, bangsa ini hanya akan berjalan tersesat, tanpa arah. Masih adakah pelita pendidikan? Masih. Dan akan selalu ada, selama masih ada guru yang mencintai anak didiknya lebih dari sekadar lembar gaji dan kenaikan pangkat. Mari kita jaga pelita itu bersama.***

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.