VISI | Masa Depan Politik Nepal Kini di Tangan Militer
Protes Gen Z dimulai secara damai pada 8 September 2025, dengan tuntutan utama mencabut larangan media sosial serta mengakhiri korupsi dan salah urus negara. Namun, unjuk rasa itu dengan cepat berubah menjadi kekerasan dan perusakan.
Dalam peristiwa tersebut, 22 orang tewas dan 256 lainnya terluka. Saat berita ini ditulis, belum ada pemerintah resmi yang bertanggung jawab. Oleh karena itu, diperlukan pembentukan komisi independen untuk menyelidiki insiden kekerasan tersebut.
Kekuasaan Ambruk, Kekerasan Meluas
Pada hari pertama aksi, Perdana Menteri Oli langsung mendapat tekanan kuat dari mitra koalisinya di Partai Kongres Nepal dan partainya sendiri, Partai Komunis Nepal (CPN-UML). Ia mengundurkan diri keesokan harinya karena gagal mengendalikan situasi.
Setelah itu, terjadi gelombang kekerasan tanpa preseden. Selain menyerang parlemen dan Mahkamah Agung, massa juga menyasar tokoh-tokoh partai penguasa: Nepali Congress, CPN-UML, dan Partai Komunis Nepal (Maois Centre). Kantor partai dan rumah pribadi para pemimpin dibakar. Beberapa media dan pengusaha juga menjadi korban.
Pada 10 September, massa yang menamakan diri mereka geng Gen Z mulai menyerbu penjara-penjara di seluruh Nepal dan membebaskan para tahanan. Protes meluas ke kota-kota besar seperti Pokhara, Biratnagar, dan Bhairahawa, dengan sasaran utama adalah kantor pemerintah provinsi dan daerah.
Meskipun pemerintah menerapkan jam malam, aksi kekerasan tidak berhenti. Rumah-rumah para politisi daerah tetap diserang.
Nepal kini berada dalam situasi paradoksal: para pemimpin politik masih ingin mempertahankan Konstitusi 2015, tetapi para demonstran telah menggulingkan pemerintahan pusat dan provinsi secara paksa. Konstitusi itu sebelumnya disusun untuk memperkuat inklusivitas dan federalisme, serta memberi kekuasaan lebih kepada kelompok marginal.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!