VISI | Masa Depan AI: Bagaimana Konsumen dapat Memengaruhi Siapa yang Mengendalikan AI

ED
Selasa, 20 Agustus 2024 | 12:04 WIB
Bagikan
VISI | Masa Depan AI: Bagaimana Konsumen dapat Memengaruhi Siapa yang Mengendalikan AI

Kerja sama global dalam mengembangkan standar etika dan investasi dalam program pendidikan untuk memberdayakan warga negara guna memahami dampak teknologi pada masyarakat akan semakin mendukung upaya ini.

Dunia akademis juga dapat melangkah maju. Peneliti dapat memajukan metode untuk mendeteksi dan menetralkan bias dalam algoritme AI dan data pelatihan. Dengan melibatkan publik, akademisi dapat memastikan beragam suara didengar dalam pembentukan kebijakan AI.

Kewaspadaan dan partisipasi publik sangat diperlukan untuk meminta pertanggungjawaban perusahaan dan pemerintah. Publik dapat memberikan tekanan pasar dengan memilih produk AI dari perusahaan yang menunjukkan praktik etis. Meskipun mengatur AI akan membantu mencegah pemusatan kekuatannya di antara segelintir orang, langkah-langkah antimonopoli yang mengekang perilaku monopoli, mempromosikan standar terbuka, dan mendukung perusahaan dan perusahaan rintisan yang lebih kecil dapat membantu mengarahkan kemajuan AI menuju kebaikan publik.

Peluang unik

Meskipun demikian, tantangannya tetap bahwa pengembangan AI memerlukan data dan sumber daya komputasi yang substansial, yang dapat menjadi rintangan signifikan bagi pemain yang lebih kecil.

Di sinilah AI sumber terbuka menghadirkan peluang unik untuk mendemokratisasi akses, yang berpotensi menciptakan lebih banyak inovasi di berbagai sektor.

Para peneliti, perusahaan rintisan, dan lembaga pendidikan memiliki akses yang sama untuk terlibat dengan perangkat AI canggih yang menyamakan kedudukan. Masa depan AI tidak ditentukan sebelumnya. Mengambil tindakan sekarang dapat membentuk lanskap teknologi yang mencerminkan nilai dan aspirasi kolektif kita, memastikan manfaat AI dibagikan secara merata di seluruh masyarakat.

Pertanyaannya bukanlah apakah kita mampu mengambil langkah-langkah ini, tetapi apakah kita mampu untuk tidak melakukannya?. ***

  • Arif Perdana adalah Associate Professor di Monash University Indonesia, yang mengkhususkan diri dalam strategi digital, dan ilmu data. Ia adalah direktur Action Lab, Indonesia.
  • Ridoan Karim adalah Dosen Hukum Bisnis, dan Wakil Direktur Studi Sarjana di School of Business, Monash University Malaysia. Ia telah mengajar dan meneliti di bidang bisnis dan hukum siber.
  • Awalnya diterbitkan di bawah Creative Commons oleh 360info™.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.