VISI | Makanan “Finger-lickin” dan Misi Peradaban
Oleh Divya Kannan
- Shiv Nadar University, Delhi-NCR
Zohran Mamdani memenangkan pemilihan yang disorot dunia dan menjadi wali kota keturunan Asia Selatan pertama di New York City. Dalam perjalanannya, kandidat dari Partai Demokrat sekaligus putra dari pasangan imigran asal India—sutradara Mira Nair dan akademisi Mahmood Mamdani—menghadapi berbagai serangan, termasuk kampanye fitnah yang mengejeknya karena makan nasi dengan tangan.
Kolonialisme telah melahirkan dan melestarikan berbagai stereotip serta mitos, terutama terkait ras dan etnis. Beberapa di antaranya masih terus muncul dalam kehidupan modern, memengaruhi cara kita menilai tubuh, kebiasaan, dan gerak-gerik seseorang.
Kemarahan di dunia maya terhadap Mamdani yang makan dengan tangan menunjukkan betapa hidupnya hierarki lama itu. Ketika komentator konservatif asal Amerika, Vince Dao, keturunan Vietnam, mengejek Mamdani di media sosial karena makan nasi dengan tangan, perdebatan pun memanas—berkisar pada isu peradaban, ras, dan identitas budaya. Hal itu juga menyingkap perpecahan internal di antara mereka yang mengaku sebagai “orang Asia sejati.”
Catatan perjalanan kolonial abad ke-19, laporan etnografi, dan tulisan para penjelajah Eropa sering menyoroti kebiasaan orang Asia dan Afrika yang makan dengan sumpit atau tangan—citra yang kemudian menjadi dasar bagi pandangan rasis tentang “kotor” dan “terbelakang.” Stereotip ini memperkuat ideologi kolonial tentang “pribumi malas” atau “orang Asia pemalas” yang dianggap enggan bekerja keras di daerah tropis, memiliki pola makan berbasis nasi, dan “menolak disiplin modernitas.”
Mitos-mitos itu bukan sekadar soal makanan, tetapi juga soal kekuasaan. Mereka mengaitkan kebiasaan tubuh dengan hierarki peradaban dan kebersihan. Sebaliknya, preferensi Eropa terhadap garpu, pisau, dan serbet—yang baru populer di kalangan elit sejak abad ke-16—dianggap sebagai simbol kehalusan dan kemajuan.
Asal-usul Mamdani yang kompleks membuat kisah ini semakin menarik. Di banyak wilayah Asia dan Afrika yang menjadi akar keluarganya, kebiasaan makan dengan tangan justru mencerminkan keakraban, kebersamaan, dan kenikmatan sensorik. Sebagai politisi minoritas di Amerika Serikat, Mamdani membawa warisan multikultural dan multireligius yang menolak klasifikasi sederhana. Ia dan mereka yang serupa dengannya harus menavigasi identitas mereka secara hati-hati dalam kehidupan publik Barat, sambil tetap autentik mewakili komunitasnya.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!