Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026 Prabowo ke Lokasi Gempa NTT, Pastikan Penanganan Cepat dan Terkoordinasi 26 Aug 2026 Melchias Markus Mekeng Ingatkan Risiko Salah Sasaran Pembatasan Pertalite Berbasis Desil 26 Aug 2026 Bank Mandiri Sampaikan Permintaan Maaf, Rekening Botok Dibuka 26 Aug 2026 TPA Cioray Tasikmalaya Terbakar, Lima Hektare Terdampak 26 Aug 2026 Satu dari Tiga Korban Pantai Karangpapak Ditemukan Meninggal 26 Aug 2026 Hadiri Pesta Biru, Farhan, "Kalau lihat dari pemain, optimis pisan" 26 Aug 2026 UAJY Raih Hibah United Board 2026, Bersama AMSI Perkuat Jurnalisme Biodiversitas 26 Aug 2026 7 Tempat Makan Enak Dekat Stasiun Padalarang 26 Aug 2026 Pendakian Gunung Lincing Malang Ditutup akibat Kebakaran Hutan 26 Aug 2026 Pendaftaran TKA SMA 2026 Dibuka hingga 27 September, Ini Syaratnya 26 Aug 2026

VISI | Makanan “Finger-lickin” dan Misi Peradaban

ED
Senin, 10 November 2025 | 03:45 WIB
Bagikan
VISI | Makanan “Finger-lickin” dan Misi Peradaban

Hal yang paling mencolok, meski tidak mengejutkan, adalah bagaimana sebagian kaum konservatif Asia-Amerika seperti Dao justru ikut menjauhkan diri dari Mamdani. Mereka memanfaatkan momen tersebut untuk menegaskan “superioritas” budaya mereka, menggemakan hierarki kolonial yang dulu digunakan untuk merendahkan nenek moyang mereka sendiri.

Ini adalah pola lama: mendefinisikan “kehormatan” dengan menolak bagian dari kelompok sendiri yang dianggap “kurang beradab.” Dengan kata lain, kategori kolonial tentang kesopanan kini beroperasi di dalam komunitas Asia sendiri. Sementara sebagian orang Asia Selatan, Tenggara, dan Timur melawan ejekan Barat, banyak juga yang tanpa sadar melanggengkan prasangka rasial lewat film, media sosial, dan budaya populer—di mana kulit lebih terang, aksen tertentu, kebiasaan makan, dan standar kecantikan tertentu dianggap lebih bernilai.

Pada awal abad ke-20, para pemikir seperti Okakura Kakuzō dan Rabindranath Tagore pernah membayangkan Asia yang bersatu, bukan karena meniru Barat, tetapi melalui nilai-nilai spiritual dan artistik bersama. Impian “pan-Asianisme” ini menantang klaim Eropa atas peradaban. Namun, persaingan geopolitik dan ketimpangan ekonomi akhirnya mengikis cita-cita tersebut.

Etika Siapa?

Kini, internet menjadi panggung baru untuk menampilkan dan mengajarkan “standar etiket yang lebih tinggi.” Banyak influencer dan pelatih perilaku mengunggah video cara menggunakan peralatan makan dengan benar, bahkan untuk buah atau makanan sederhana. Namun, tren “self-grooming” ini juga menuai tawa dan perlawanan. Seorang komedian asal Malaysia, misalnya, membuat video parodi terhadap pakar etiket asal Inggris yang menyarankan penggunaan garpu untuk makan pisang atau nasi.

Para sejarawan kuliner telah menunjukkan bagaimana perdebatan tentang kebersihan, ras, dan budaya selama berabad-abad membentuk kebiasaan makan. Dalam konteks Asia Selatan dan Timur, batas antara “murni” dan “najis” dibangun secara hati-hati, termasuk dalam interaksi mereka dengan bangsa Eropa.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.