VISI | Makanan “Finger-lickin” dan Misi Peradaban
Hal yang paling mencolok, meski tidak mengejutkan, adalah bagaimana sebagian kaum konservatif Asia-Amerika seperti Dao justru ikut menjauhkan diri dari Mamdani. Mereka memanfaatkan momen tersebut untuk menegaskan “superioritas” budaya mereka, menggemakan hierarki kolonial yang dulu digunakan untuk merendahkan nenek moyang mereka sendiri.
Ini adalah pola lama: mendefinisikan “kehormatan” dengan menolak bagian dari kelompok sendiri yang dianggap “kurang beradab.” Dengan kata lain, kategori kolonial tentang kesopanan kini beroperasi di dalam komunitas Asia sendiri. Sementara sebagian orang Asia Selatan, Tenggara, dan Timur melawan ejekan Barat, banyak juga yang tanpa sadar melanggengkan prasangka rasial lewat film, media sosial, dan budaya populer—di mana kulit lebih terang, aksen tertentu, kebiasaan makan, dan standar kecantikan tertentu dianggap lebih bernilai.
Pada awal abad ke-20, para pemikir seperti Okakura Kakuzō dan Rabindranath Tagore pernah membayangkan Asia yang bersatu, bukan karena meniru Barat, tetapi melalui nilai-nilai spiritual dan artistik bersama. Impian “pan-Asianisme” ini menantang klaim Eropa atas peradaban. Namun, persaingan geopolitik dan ketimpangan ekonomi akhirnya mengikis cita-cita tersebut.
Etika Siapa?
Kini, internet menjadi panggung baru untuk menampilkan dan mengajarkan “standar etiket yang lebih tinggi.” Banyak influencer dan pelatih perilaku mengunggah video cara menggunakan peralatan makan dengan benar, bahkan untuk buah atau makanan sederhana. Namun, tren “self-grooming” ini juga menuai tawa dan perlawanan. Seorang komedian asal Malaysia, misalnya, membuat video parodi terhadap pakar etiket asal Inggris yang menyarankan penggunaan garpu untuk makan pisang atau nasi.
Para sejarawan kuliner telah menunjukkan bagaimana perdebatan tentang kebersihan, ras, dan budaya selama berabad-abad membentuk kebiasaan makan. Dalam konteks Asia Selatan dan Timur, batas antara “murni” dan “najis” dibangun secara hati-hati, termasuk dalam interaksi mereka dengan bangsa Eropa.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!