VISI | Lucunya Negeri Ini

ED
Senin, 8 Desember 2025 | 07:29 WIB
Bagikan
VISI | Lucunya Negeri Ini
Oleh Drajat ADA sebuah kalimat yang kerap terdengar di ruang-ruang diskusi pendidikan, rapat kementerian, seminar, bahkan baliho: "Maju mundurnya sebuah bangsa ditentukan oleh kualitas pendidikannya." Kalimat ini begitu sering kita dengar sampai kadang tampak seperti ucapan seremonial—manis di telinga, tetapi hambar dalam tindakan. Namun, mari kita bicara lebih jujur: jika pendidikan menentukan peradaban, mengapa arah pendidikan kita terasa gamang? Mengapa gagasan "Generasi Emas 2045" yang semestinya menginspirasi justru terdengar seperti generasi cemas bagi sebagian orang? Karena realitanya, negeri ini berjalan dengan ironi yang nyaris menggelikan—jika saja dampaknya tidak seburuk itu. Alam kita hari ini tidak lagi menjadi ibu yang memeluk, tetapi menjadi saksi sekaligus suara kemarahan. Banjir bandang, tanah longsor, hutan gundul, sungai tercemar limbah, dan tambang nikel ilegal menjadi wajah luka bumi pertiwi. Yang paling menyakitkan bukan hanya kerusakan itu sendiri, tetapi penyebabnya: bukan bencana alam—melainkan bencana moral. Pembalakan liar terjadi bukan karena tidak ada hukum, tetapi karena hukum bisa dinegosiasi. Tambang ilegal bukan karena tidak ada kebijakan, tetapi karena kebijakan bisa dinekukan oleh kepentingan. Dan lucunya, ketika alam marah, pemerintah baru terlihat sibuk seolah-olah pahlawan kesiangan—padahal mereka adalah bagian dari masalah itu sendiri. Suara Anak Muda Dianggap Ancaman Ketika generasi muda bersuara—mengkritisi kebijakan, menyuarakan keadilan lingkungan, membela masa depan—mereka bukan disambut sebagai intelektual masa depan, melainkan dianggap pengganggu. Yang mengherankan, negeri ini seperti alergi terhadap kecerdasan kritis. Pemuda yang menyuarakan logika dianggap melawan. Pemikiran yang objektif dianggap subversif. Lucunya, mereka yang membahayakan masa depan—yang merusak alam, mengoyak integritas jabatan, atau mempermainkan regulasi—justru dilindungi. Apakah karena mereka: berasal dari lingkar kekuasaan? bagian dari jejaring politik? atau sekadar “teman sepanggung” dalam kampanye? Entahlah. Tetapi pola itu terlalu sering terjadi untuk disebut kebetulan. Ironi terbesar negeri ini bukan pada bencana lingkungan, bukan pula pada korupsi politik, tetapi pada ketidakseriusan mengelola pendidikan. Karena pendidikan adalah akar. Jika akarnya rapuh, bangsa hanya menjadi bangunan tinggi dengan fondasi retak—menunggu waktu untuk runtuh. Sayangnya, pendidikan kita lebih sering menjadi pasar politik ketimbang etalase intelektual. Hampir setiap pergantian menteri ada kurikulum baru. Bukan karena evaluasi strategis, tetapi karena keinginan meninggalkan jejak jabatan. Maka wajar jika dunia pendidikan terlihat seperti percobaan tanpa akhir: ganti menteri, ganti kebijakan. Ganti kabinet, ganti arah, serta ganti kepentingan, ganti program Yang tidak pernah berganti hanya satu: ketidakjelasan visi jangka panjang. Dalam pidato, dokumen renstra, dan sambutan resmi, istilah “SDM unggul” terdengar gagah. Namun pertanyaannya: Apakah kita sungguh sedang membangun SDM unggul, atau hanya membangun slogan unggul? SDM unggul seharusnya lahir dari sistem yang konsisten, lingkungan yang sehat, pemimpin yang jujur, dan kebijakan yang berpihak pada ilmu pengetahuan—bukan kepentingan kelompok. Tetapi bagaimana mencetak SDM unggul jika: Guru masih diperlakukan seperti operator administrasi? Sekolah masih bekerja mengejar laporan, bukan mutu? Pelajar masih dijejali materi, bukan dilatih berpikir? Saatnya Anak Muda Memimpin Jika bangsa ini ingin bergerak menuju perubahan sejati, maka harus ada keberanian melakukan reset mental: dari generasi nyaman menjadi generasi bernalar, dari pemimpin simbolis menjadi pemimpin substansial. Dan satu hal penting: Masa depan tidak bisa terus diserahkan kepada mereka yang membangun kekuasaan dari jaringan, bukan kompetensi. Negeri ini butuh pemimpin muda, bukan sekadar muda usia—tetapi muda cara berpikir, muda dalam integritas, muda dalam keberanian moral. Bukan pemimpin yang membanggakan baliho, tetapi pemimpin yang mampu membanggakan rakyatnya. Jika hari ini negeri kita tampak lucu karena kedunguan dibuat seperti kebijakan, dan kritik dibuat seperti ancaman, maka kita tidak boleh hanya tertawa sarkastis. Justru inilah saatnya: Pendidik bicara lantang, bukan diam. Pemuda berpikir kritis, bukan takut, serta masyarakat menuntut akuntabilitas, bukan sekadar hiburan politik Karena jika pendidikan kembali ditempatkan sebagai pusat peradaban, maka generasi emas bukan lagi slogan—melainkan kenyataan. Dan saat itu tiba, kita tidak lagi berkata: "Lucunya negeri ini." Tetapi dengan bangga berkata: “Akhirnya negeri ini waras.”

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.