VISI | Kursi Kekuasaan
Oleh Idat Mustari
TIDAK mudah meraih kursi kekuasaan baik di legislatif atau eksekutif, persaingannya sangatlah tinggi, sangatlah ketat. Saling sikat, saling sikut diantara mereka. Tidak cukup bermodalkan niat untuk bisa meraih kursi itu, melainkan juga harus bermodalkan duit yang tak sedikit. Tidak cukup bermodalkan kecerdasan, dan integritas, tapi juga harus siap isi tas. Setelah menduduki kursi kekuasaan pun, tidaklah mudah, godaanya tinggi, layaknya hiasan dunia (al-mata al-ghurur) karena menyangkut jabatan, pengaruh, uang, dan sumberdaya penting.
Abraham Lincoln berkata, “Semua orang bisa tahan dengan kesengsaraan, tapi bila kau ingin mengetahui karakter seseorang, berilah dia kekuasaan. Sosok yang dulu dikenal rendah hati sekarang jadi tinggi hati. Dulu dikenal ramah berubah jadi galak. Dulu dikenal someah sekarang jadi judes. Memang pengaruh kekuasaan sangatlah hebat, bisa mengubah seseorang dari sosok yang kita kenal menjadi sosok yang asing
Allah memberikan pelajaran kepada kita, tentang seorang raja yang tiranik yakni Fir’aun Ramses II (1304-1237 M). Bahkan Fir’aun ini selain menindas rakyat juga mengaku dirinya Tuhan. Dia ingin dikultuskan oleh semua rakyatnya. Jika rakyatnya tidak mengkultuskannya dibayang-bayangi “ngeri-ngeri sedap.” Sikapnya mengangungkan diri sendiri kemudian menindas harkat-martabat manusia seperti diktator dan tiran. Dia diperhamba oleh nafsunya sendiri untuk berkuasa dan menguasai orang lain. Yang kemudian hari, Allah mengutus seorang Nabi untuk melawannya, menghadapinya yakni Musa as (simbol perlawanan)
Firaun sering digambarkan sebagai simbol keangkuhan dan kesombongan. Kesombongan Fir’aun adalah menutup telinga atas saran--peringatan dari Musa as. Firaun meyakini bahwa kekuasaan dan kemuliaan yang dimilikinya berasal dari keturunan ilahi, yang membuatnya merasa tidak terkalahkan dan di atas hukum. Kesombongannya telah memancing kemarahan Allah, hingga kemudian ditenggelamkan dalam lautan.
Kisah Fir’aun adalah kisah nyata bukan dongeng. Yang seharusnya menjadi pelajaran bagi siapapun yang hari ini sedang berkuasa. Bahwa sehebat apapun dirinya. Sebesar apapun kekuasaannya tetapi jika sombong akan ada perlawanan dari “Musa.” (Rakyat). Rakyat Bersatu tak bisa dikalahkan oleh penguasa yang sombong. Justru ia akan tumbang jatuh terjengkang. Dan itu hanya soal waktu.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!