VISI | Korupsi
Alasannya, masih banyak oknum aparat penegak hukum baik di kepolisian maupun kejaksaan yang orientasinya bukan mendorong pejabat untuk tidak korupsi, malah bisa sebaliknya.
Ia bercerita, saat seorang penanggung jawab pengadaan barang dan jasa pemerintah dipanggil oknum APH, banyak yang gemeteran, bahkan sampai terjatuh-jatuh berkas tebal-tebal yang akan diperiksa oleh penyidik. Padahal, ia sudah melakukan pekerjaan sesuai standar operasional prosedural (SOP). Akhirnya di tahan juga.
Tapi, kata dia, karena tahu substansi pemeriksaan itu bukan ke pekerjaan, ia dengan mudah "menyelesaikannya". Katanya, "Saya biasanya, datang sehari sebelum waktu yang diminta di surat panggilan itu, dan diselesaikan pada saat itu. Sehingga besoknya tinggal datang sesuai surat panggilan untuk formalitas saja. Bawa hanya dua tiga lembar laporan pekerjaan, sebentar selesai dan pulang," ungkapnya. "Tapi, untuk menyelesaikan itu tentu uangnya tidak sedikit dan dari mana kalau bukan dari para rekanan pemenang tender. Saya tidak mungkin mengeluarkan dari gaji dan tunjangan yang tidak seberapa itu".
Jadi, katanya, mustahil korupsi bisa hilang kalau masih banyak oknum APH yang tak punya integritas dalam menekan angka korupsi. Oknum APH melakukan itu, katanya, mungkin juga karena tekanan dari oknum di instansinya juga yang punya kewenangan lebih besar. Selama sistemnya seperti ini, ia pesimis korupsi bisa diberantas.
Bahkan, soal korupsi ini ada cerita lucu. Dulu, ada oknum pejabat eselon dua yang ketika ada anak buahnya dipanggil APH, dan menggigil, ia malah terlihat santai. "Tenang, dibalik musibah ada berkah," katanya sambil tersenyum.
Pejabat itu memanfaatkan panggilan APH untuk "diselesaikan" secara tanggung renteng dari semua para kepala satuan unit. Nilainya biasanya sudah dipatok untuk masing-masing kepala unit. Akhirnya, dari uang yang terkumpul, 50 persennya diberikan ke oknum APH, dan dia bisa mengantongi "berkah" uang sisanya yang 50 persen lagi.
Kelemahan sistem juga bukan hal yang mudah untuk diperbaiki. Tidak cukup oleh pemegang kekuasaan di tingkat daerah tapi harus ada kesungguhan dan integritas dari semua instansi pusat. Kalau tidak, pemberantasan korupsi hanya cerita yang bisa dibukukan berjilid-jilid dan banyak seri. Juga patut difikirkan untuk melahirkan buku best seller, "Mati Ketawa Cara Koruptor".***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!