VISI | Koperasi, Masihkah Sokoguru?

ED
Sabtu, 12 Juli 2025 | 06:32 WIB
Bagikan
VISI | Koperasi, Masihkah Sokoguru?

Oleh Aep S. Abdullah

TAHUN 1990, saat pertama kali mengenal koperasi, kesan yang melekat adalah kelembaman. Seolah koperasi itu hanya tempat berkumpulnya para manula, yang mengisi hari tua dengan rapat dan catatan keuangan kecil. Di setiap perayaan Hari Koperasi, suasananya terasa seperti reuni besar para penggiat koperasi yang rambutnya telah memutih, namun semangatnya tetap menyala.

Kala itu ada nama-nama besar di panggung koperasi Jawa Barat dan Kota Bandung. RH Lily Sumantri, mantan Bupati Bandung yang menjadi Ketua Dekopinwil Jawa Barat, adalah salah satu yang selalu hadir dalam forum strategis. Di Kota Bandung, H.E. Natawidjaja memimpin Dekopinda dengan gaya khasnya yang hangat. Zainal Abidin menjadi sosok sentral di Kopti Jawa Barat, sementara di Kabupaten Bandung, H. Waroi memimpin KUD Pacet dengan dedikasi luar biasa.

Mereka adalah para suhu koperasi. Tidak hanya hadir, tapi juga membina, memelihara, dan merawat eksistensi koperasi dengan tulus dan ikhlas. Tidak ada gaji besar, tidak ada fasilitas mewah. Yang ada hanya tekad untuk menjadikan koperasi sebagai jalan memperkuat ekonomi rakyat.

Waktu berlalu. Generasi demi generasi berganti. Namun, ketika menghadiri puncak peringatan Hari Koperasi ke-77 tahun 2024 lalu di Gedung Senbik, ada perasaan yang familiar. Seperti kilas balik yang tak bisa dihindari. Wajah-wajah yang hadir tetap penuh semangat, tapi banyak yang sudah sepuh. Pak Asep Nurdin, Ketua Kopti, tampil energik. Mustopa Djamaludin, Ketua Dekopinwil yang juga mantan Kepala Dinas Koperasi & UMKM Jawa Barat, tetap setia di garis depan. Dan, tentu saja doa saya yang selalu mengalir untuk kesehatannya Kang H. Usep Sumarno, doktor yang merintis koperasi dari Koperasi Pasar Cicaheum hingga sekarang sebagai Ketua Dekopinda Kota Bandung. Ia menjadi Ketua Panpel Harkop ke-77 dan sekarang masih diandalkan sebagai tokoh penggerak koperasi di Kota Bandung dan Jawa Barat.

Ada juga Kang Dadan, Kang Beni, Kang Asep, Kang Mumu dan sejumlah teman lainnnya dari Dekopinda dan Dekopinwil yang setia menjadi pentatalaksana koperasi. Namun kehilangan besar terasa—sosok Pak Andra Azwar Ludin, tokoh penting pendiri dan Ketua Kopanti Jawa Barat yang membangun Gedung Senbik dan mendedikasikan lebih separuh hidupnya untuk koperasi PKL, telah tiada.

Saya pribadi mulai mendalami koperasi sejak tahun 1997, saat menyusun buku "Koperasi Indonesia, Apa Kata Mereka?" bersama Kang Achmad Setiawan, Ketua Koperasi Pegawai Telkom (Kopegtel) Pusat kala itu. Buku itu menjadi saksi banyak kisah: dari yang sukses membangun ekonomi kolektif, hingga yang kandas karena manajemen buruk. Buku berisi katalog koperasi ini juga menjadi referensi untuk membangun jejaring dan bisnis koperasi karena saat itu informasi belum tersebuka seperti sekarang.

Lalu di tahun 2010, saya menulis buku "Andra, Separuh Hidup untuk PKL", sebuah penghormatan untuk dedikasi Pak Andra Azwar Ludin. Beliau tidak hanya membina koperasi, tetapi juga membela hak-hak pedagang kecil yang sering terpinggirkan. Puluhan PKL dihajikan maupun diumrohkan, selain diperkuat struktur permodalan usahanya. Dedikasi semacam itu tak mudah ditemukan di era kini.

Data terbaru dari Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Barat mencatat, hingga akhir 2023, terdapat lebih dari 24.000 koperasi aktif di Jawa Barat, dengan sekitar 2.000 di antaranya berada di Kota Bandung. Namun, tidak semua aktif secara fungsional—banyak yang masih berjuang dalam struktur dan sistem manajemen.

Dari sekian banyak, beberapa koperasi yang masih eksis dan berkembang baik di Kota Bandung antara lain Kopegtel Bandung, Koperasi PKL Kota Bandung, Koperasi Produsen Sabisa Farm, Koperasi Rukun Ikhriar, serta Koperasi Pegawai Pemerintah Daerah (KPPD) yang terus menunjukkan geliat inovasi. Mereka menjadi role model di tengah tantangan era digital dan globalisasi.

Namun tetap, masalah klasik koperasi masih terasa: kurangnya regenerasi. Banyak koperasi dikelola oleh pengurus yang sudah lanjut usia, tanpa pelapis muda yang cukup. Padahal regenerasi adalah syarat mutlak agar koperasi tetap relevan dan adaptif terhadap perubahan zaman. Tentu yang sangat menyedihkan koperasi yang menjadi cikal bakal koperasi di Indonesia, "Itikoerih Hibarna" di Ciparay, Kabupaten Bandung, Jawa Barat malah tidak ada jejaknya lagi.

Kendala lain adalah soal literasi koperasi di kalangan muda. Banyak anak muda mengenal startup, bisnis digital, bahkan NFT, tapi nyaris tidak mengenal koperasi. Padahal nilai-nilai koperasi—gotong royong, kebersamaan, demokrasi ekonomi—adalah solusi tepat bagi ketimpangan ekonomi hari ini.

Meski begitu, masih ada harapan. Program Koperasi Merah Putih yang didorong pemerintah pusat dan daerah untuk didirikan di setiap desa dan kelurahan, membuka peluang baru. Koperasi tidak hanya menjadi institusi simpan pinjam, tapi juga menjadi lembaga produksi, distribusi, hingga pemasaran digital yang terintegrasi.

Tokoh-tokoh baru juga mulai muncul. Para akademisi, aktivis sosial, dan pengusaha muda mulai melihat koperasi sebagai sistem ekonomi alternatif yang kuat dan inklusif. Ini pertanda baik. Namun dibutuhkan dukungan kebijakan, pelatihan berkelanjutan, dan tentunya digitalisasi koperasi yang sesungguhnya, bukan sekadar slogan. Apalagi kepala negaranya sekarang merupakan cucu Margono Djojohadikoesoemo, tokoh penting dalam sejarah koperasi Indonesia.

Koperasi di Bandung dan Jawa Barat memiliki sejarah panjang dan peran besar. Tidak hanya dalam membangun ekonomi, tapi juga dalam membentuk karakter masyarakat: jujur, tanggung jawab, dan saling tolong-menolong. Itu semua tidak boleh hilang.

Kini, tantangan kita adalah membawa koperasi kembali ke tengah panggung, bukan di sudut sejarah. Bukan hanya milik orang tua, tetapi milik semua generasi. Termasuk anak muda yang haus inovasi dan perubahan.

Di hari koperasi ke-78 ini, mari kita ingat kembali bahwa koperasi bukan hanya lembaga ekonomi, tapi juga perwujudan dari cita-cita luhur bangsa: keadilan sosial dan kemandirian rakyat. Jangan biarkan koperasi tinggal nama. Mari kita jaga warisannya.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.