VISI | Ketika Guru Diabaikan
Tidak mengherankan bila hari ini kita bicara tentang “darurat adab”. Perilaku pejabat, dewan, dan sebagian pemimpin sering menjadi contoh yang jauh dari nilai keteladanan. Kata-kata kasar, kebijakan tanpa empati, dan sikap elitis dipertontonkan tanpa rasa bersalah. Ketika elite kehilangan adab, jangan salahkan jika rakyat ikut kehilangan arah.
Guru sejatinya adalah benteng terakhir adab bangsa. Namun benteng itu kini retak karena terus ditekan dari berbagai sisi. Tanpa perlindungan hukum, tanpa kepastian kesejahteraan, tanpa penghargaan yang layak, guru dipaksa bertahan dengan idealisme semata. Tidak semua mampu, dan itu sangat manusiawi.
Sudah saatnya negeri ini bercermin. Pendidikan tidak akan pernah kuat jika gurunya diabaikan. Kurikulum boleh berganti, teknologi boleh canggih, gedung sekolah boleh megah, tetapi jiwa pendidikan tetap bernama guru. Menguatkan pendidikan berarti memuliakan guru—secara moral, sosial, dan ekonomi.
Guru tidak meminta disanjung berlebihan. Mereka hanya ingin dilibatkan, dilindungi, dan dihargai secara adil. Mereka ingin ruang aman untuk mendidik, kepastian untuk mengabdi, dan pengakuan bahwa peran mereka bukan pelengkap, melainkan penentu masa depan bangsa.
Jika hari ini guru terus diabaikan, maka jangan heran jika esok negeri ini kehilangan arah. Sebab ketika cahaya diredupkan, kegelapan perlahan mengambil alih. Dan dalam kegelapan itu, kita semua akan meraba—bertanya-tanya—di mana letak kesalahan bermula?
Jawabannya sederhana: ia bermula ketika guru tidak lagi dimuliakan.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!