VISI | Ketika Guru Diabaikan
Oleh Drajat
- Guru
- Doktor Ilmu Pendidikan
- Wasekjen Komnasdik
- Hipnoterapis
- Mindshaper Nusantara
- APKS PGRI Prov. Jabar
ADA satu ironi yang terus berulang dalam perjalanan pendidikan negeri ini: guru dituntut sempurna, tetapi diperlakukan seadanya. Ketika pendidikan dianggap gagal, ketika moral generasi muda dipertanyakan, ketika adab terasa kian menipis, sorot mata publik dengan cepat mengarah pada guru dan dosen. Mereka dianggap pihak paling bertanggung jawab. Padahal, pada saat yang sama, keberadaan mereka sering kali diabaikan, bahkan dipinggirkan oleh sistem yang seharusnya melindungi dan menguatkan.
Sejak dahulu, guru diposisikan sebagai sosok yang digugu dan ditiru. Ia adalah teladan hidup, role model tanpa cacat, malaikat yang seolah tak boleh salah. Dari ujung rambut hingga ujung kaki, perilakunya diawasi. Satu kekeliruan kecil bisa menjadi viral, satu kesalahpahaman bisa berujung pidana. Harapan masyarakat terhadap guru begitu tinggi, nyaris sempurna. Ironisnya, tingginya ekspektasi itu tidak diiringi dengan penghormatan dan perlindungan yang sepadan.
Hari ini, menegur siswa demi disiplin bukan lagi perkara sederhana. Guru harus berpikir berkali-kali sebelum mengingatkan, apalagi menegakkan aturan. Salah langkah sedikit, orang tua datang dengan emosi, laporan mengalir ke aparat, dan guru berhadapan dengan proses hukum. Pendidikan yang sejatinya penuh kasih dan pembinaan berubah menjadi ruang penuh kecemasan.
Negeri ini seolah lupa bahwa mendidik bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan juga membentuk karakter. Disiplin, tanggung jawab, adab, dan etika tidak lahir dari teori semata, melainkan dari proses pembiasaan yang kadang membutuhkan ketegasan. Namun ketika ketegasan dianggap kekerasan, ketika niat mendidik dituduh melanggar hak, maka guru kehilangan ruang aman untuk menjalankan perannya secara utuh.
Dalam kondisi seperti ini, tidak sedikit guru yang memilih “aman”. Mengajar sekadarnya, menuntaskan administrasi, menghindari konflik. Bukan karena mereka tidak peduli, melainkan karena sistem tidak memberi keberpihakan. Padahal, pendidikan yang hebat tidak akan lahir dari ketakutan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!