VISI | KDM dan "Ancaman" dari Dalam

ED
Rabu, 30 April 2025 | 07:33 WIB
Bagikan
VISI | KDM dan "Ancaman" dari Dalam

Seperti kata Gus Dur, “Kritik bukan tanda benci. Ia adalah wujud cinta pada kebenaran.” Dalam konteks ini, rakyat yang berani menyampaikan kritik seharusnya dilihat sebagai penjaga etika kekuasaan, bukan pengganggu stabilitas.

Apalagi sejarah politik lokal di Indonesia telah menunjukkan, bahwa pemimpin yang terlalu disanjung, justru rentan tergelincir. Lihatlah Ratu Atut Chosiyah, gubernur perempuan pertama Banten yang awalnya dielu-elukan, tapi akhirnya tumbang karena praktik dinasti dan kasus korupsi.

Kemudian ada Syahrul Yasin Limpo, pemimpin yang karismatik dan disegani, namun akhirnya terjerat kasus pemerasan dan penyalahgunaan dana saat menjabat sebagai Menteri Pertanian. Kekuasaan yang terlalu dipuja sering kali membuat penguasanya lupa bahwa jabatan itu amanah, bukan warisan keluarga.

Lukas Enembe pun bernasib serupa. Pemimpin Papua yang dihormati banyak kalangan ini justru hancur reputasinya karena kasus korupsi dana otonomi khusus dan gaya hidup mewah yang mencolok. Ketika pemimpin disanjung seperti dewa, maka mereka pun mulai merasa tak tersentuh hukum manusia.

Zumi Zola, gubernur muda penuh harapan dari Jambi, pun berakhir di penjara karena praktik gratifikasi dan suap. Dan tak lupa Nur Mahmudi Ismail, wali kota Depok yang religius dan reformis, akhirnya tersandung kasus korupsi pembebasan lahan. Dan sebentar lagi, bandul itu pun nampaknya akan berputar mengarah ke Mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.

Semua contoh ini menunjukkan pola yang sama: kekuasaan yang dibalut kekaguman buta akan berubah menjadi jebakan. Saat pemimpin dikelilingi oleh orang-orang yang hanya memuji dan memfilter semua kritik, maka ia kehilangan arah. Dan kekuasaan tanpa kritik ibarat kapal tanpa kompas—terombang-ambing dalam kebutaan arah.

Soe Hok Gie pernah mengatakan, “Tanda pemimpin yang buruk adalah mereka yang memenjarakan suara yang mengingatkannya.” Meski para pemimpin tadi mungkin tidak memenjarakan secara fisik, tapi bila pendukungnya menyerang habis-habisan para pengkritik, efeknya tetap sama: suara pengingat jadi hilang.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.