VISI | KDM dan "Ancaman" dari Dalam
Oleh Aep S. Abdullah
ADA hal lucu tapi agak serius soal dunia politik kita: terkadang pendukung lebih militan dari pemimpin yang mereka dukung. Mirip seperti fans garis keras band rock. Kalau idolanya dikritik, langsung bawa golok argumen dan lempar panci komentar pedas ke mana-mana. Padahal bisa jadi, si pemimpin yang dibelanya malah sedang duduk santai sambil nyeruput kopi, baca kritik, dan senyum-senyum sendiri.
Kehadiran Kang Dedi Mulyadi (KDM) di tengah lanskap politik kita, secara pribadi saya lihat seperti segelas air segar di tengah padang gurun yang penuh debu politik transaksional dan janji manis beraroma palsu. Gaya komunikasinya, pendekatannya yang membumi, dan kemampuannya merangkul akar rumput menjadikannya sosok yang memang pantas dikagumi.
Namun, kekaguman yang terlalu besar sering kali berubah jadi jebakan. Pujian yang berlebihan, apalagi dibungkus dengan sikap fanatik, bisa menutup pintu masuknya kritik yang sehat. Sayangnya, belakangan ini muncul fenomena di mana para pendukung Kang Dedi malah terlalu sensitif terhadap kritik. Setiap ada yang menyampaikan pendapat berbeda, langsung diserang, dijuluki pembenci, atau bahkan dicurigai sebagai “titipan lawan politik”.
Padahal, jika kita perhatikan, Kang Dedi sendiri bukanlah tipe pemimpin yang anti kritik. Ia terbuka, responsif, dan tidak sedikit konten di media sosialnya yang menunjukkan bahwa ia mampu menanggapi perbedaan pandangan dengan santai dan cerdas. Justru, para pendukung yang terlalu militan ini bisa menjadi ancaman terhadap reputasi Kang Dedi itu sendiri—dari dalam.
Pemimpin yang baik bukan yang haus pujian, tapi yang kuat menerima kritik. Pemimpin yang tahan banting dalam menerima masukan justru akan semakin matang, karena kritik sejatinya adalah cermin—meski kadang pecahannya tajam, tapi ia menunjukkan realitas.
Kritik adalah vitamin bagi kepemimpinan. Tanpa itu, kekuasaan mudah sakit oleh kesombongan. Dan bila terlalu banyak disuapi pujian tanpa jeda, pemimpin bisa mabuk kekuasaan seperti orang yang kekenyangan gula—manis di awal, kolaps di ujung.
Seperti kata Gus Dur, “Kritik bukan tanda benci. Ia adalah wujud cinta pada kebenaran.” Dalam konteks ini, rakyat yang berani menyampaikan kritik seharusnya dilihat sebagai penjaga etika kekuasaan, bukan pengganggu stabilitas.
Apalagi sejarah politik lokal di Indonesia telah menunjukkan, bahwa pemimpin yang terlalu disanjung, justru rentan tergelincir. Lihatlah Ratu Atut Chosiyah, gubernur perempuan pertama Banten yang awalnya dielu-elukan, tapi akhirnya tumbang karena praktik dinasti dan kasus korupsi.
Kemudian ada Syahrul Yasin Limpo, pemimpin yang karismatik dan disegani, namun akhirnya terjerat kasus pemerasan dan penyalahgunaan dana saat menjabat sebagai Menteri Pertanian. Kekuasaan yang terlalu dipuja sering kali membuat penguasanya lupa bahwa jabatan itu amanah, bukan warisan keluarga.
Lukas Enembe pun bernasib serupa. Pemimpin Papua yang dihormati banyak kalangan ini justru hancur reputasinya karena kasus korupsi dana otonomi khusus dan gaya hidup mewah yang mencolok. Ketika pemimpin disanjung seperti dewa, maka mereka pun mulai merasa tak tersentuh hukum manusia.
Zumi Zola, gubernur muda penuh harapan dari Jambi, pun berakhir di penjara karena praktik gratifikasi dan suap. Dan tak lupa Nur Mahmudi Ismail, wali kota Depok yang religius dan reformis, akhirnya tersandung kasus korupsi pembebasan lahan. Dan sebentar lagi, bandul itu pun nampaknya akan berputar mengarah ke Mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil.
Semua contoh ini menunjukkan pola yang sama: kekuasaan yang dibalut kekaguman buta akan berubah menjadi jebakan. Saat pemimpin dikelilingi oleh orang-orang yang hanya memuji dan memfilter semua kritik, maka ia kehilangan arah. Dan kekuasaan tanpa kritik ibarat kapal tanpa kompas—terombang-ambing dalam kebutaan arah.
Soe Hok Gie pernah mengatakan, “Tanda pemimpin yang buruk adalah mereka yang memenjarakan suara yang mengingatkannya.” Meski para pemimpin tadi mungkin tidak memenjarakan secara fisik, tapi bila pendukungnya menyerang habis-habisan para pengkritik, efeknya tetap sama: suara pengingat jadi hilang.
Oleh karena itu, kepada para pendukung Kang Dedi Mulyadi, sebaiknya jaga keteladanan KDM dengan menjadi pendukung yang dewasa. Jangan jadi pagar yang justru membuat pohon kebaikan tak bisa tumbuh bebas. Kritik yang sehat bukan ancaman, tapi pupuk bagi kepemimpinan.
Kalau benar mencintai, maka biarkan pemimpin kita tetap menginjak bumi, bukan melayang di awang-awang pujian. Karena kekuasaan yang sehat adalah kekuasaan yang terus diawasi, bukan disembah.***
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!