VISI | Kang Acil
𝑆𝑒𝑡𝑖𝑎𝑝 ℎ𝑎𝑏𝑖𝑠 𝑅𝑎𝑚𝑎𝑑𝑎𝑛 𝐻𝑎𝑚𝑏𝑎 𝑐𝑒𝑚𝑎𝑠 𝑘𝑎𝑙𝑎𝑢 𝑡𝑎𝑘 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎𝑖 𝑈𝑚𝑢𝑟 ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎 𝑑𝑖 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑑𝑒𝑝𝑎𝑛 𝐵𝑒𝑟𝑖𝑙𝑎ℎ ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑚𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛
— penggalan ini menjadi doa yang dinyanyikan jutaan orang, menyusup ke ruang ibadah dan hati umat.
Sejak kecil, Sam, Acil, dan Jaka telah akrab dengan musik. Mereka terinspirasi oleh Sam Saimun hingga Elvis Presley, sebelum akhirnya menemukan identitas musikal yang khas: puitis, romantis, dan religius. Dari Bandung, suara mereka menggema ke seluruh negeri.
Lagu-lagu seperti Cinta, Sendiri, Gubahanku, hingga Melati dari Jayagiri menjadi bukti abadi bahwa kesederhanaan bisa melahirkan keindahan. Di dalamnya ada satire, ada doa, ada cinta, ada kritik sosial. Kang Acil, dengan suara khasnya, menjadikan lirik itu berjiwa.
Dalam rentang lebih dari empat dekade, Bimbo telah merekam lebih dari 200 album. Bayangkan betapa luasnya jejak musik yang mereka tinggalkan. Kang Acil bukan hanya seorang penyanyi, ia adalah bagian dari sejarah panjang budaya musik Indonesia.
Di usia senjanya, Acil kian menapaki jalan spiritual. Ia kerap berbicara tentang hidup sebagai perjalanan jiwa. Bersama seniman-seniman lain, ia merenungi makna hidup, bukan sekadar musik. Ia percaya bahwa harmoni sejati ada dalam kesadaran manusia akan Tuhannya.
Beberapa tahun terakhir, kesehatannya memang menurun. Ia kerap keluar-masuk rumah sakit karena komplikasi. Namun, di tengah kelemahan tubuhnya, Kang Acil tetap hadir, tetap tersenyum, tetap berbagi cerita. Kehadirannya menjadi penghibur keluarga dan sahabat.
Pesan terakhirnya sederhana, namun penuh makna: “Jaga lagu-lagu itu, jangan sampai hilang.” Bagi Acil, karya bukan sekadar milik pribadi, melainkan warisan bangsa. Ia ingin musik Bimbo tetap hidup, menemani generasi demi generasi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!