VISI | Kang Acil

ED
Selasa, 2 September 2025 | 06:39 WIB
Bagikan
VISI | Kang Acil

Oleh Aep S. Abdullah

KITA kembali kehilangan seorang tokoh besar dalam dunia musik Indonesia. Kang Acil Bimbo, atau Rachmat Darmawan Hardjakusumah, yang telah berpulang pada Senin (1/9/2025) pukul 22.22 WIB. Kabar duka ini datang dari cucunya, Adhisty Zara, yang mengumumkan kepergian sang kakek tercinta.

Nama Acil melekat bukan hanya pada musik, tapi juga pada sejarah sebuah keluarga yang unik. Bersama saudara-saudaranya, ia membangun Bimbo, sebuah grup musik yang melintasi batas waktu. Dari rumah keluarga Hardjakusumah, lahirlah harmoni yang menggetarkan Indonesia.

Pada masanya, trio Sam, Acil, dan Jaka tampil penuh daya pikat. Sementara saudari mereka membentuk Yanti Sisters yang sempat mewarnai jagat musik perempuan di era itu. Ketika Yanti Sisters redup, Iin Parlina menyatukan suaranya dengan para kakaknya. Dari sinilah Bimbo menemukan formasi emasnya.

Banyak orang menyebut Bimbo sebagai “band intelek.” Julukan ini bukan sembarang sebutan. Sam lulusan seni rupa ITB, Acil dari Fakultas Hukum Unpad, Jaka dari Ekonomi Unpad, dan Iin sempat kuliah di Sastra Perancis. Sebuah formasi yang jarang ditemui dalam dunia musik Indonesia saat itu.

Acil, yang meraih gelar sarjana hukum tahun 1974, dan magister akuntan memilih jalan musik. Namun, ilmu hukumnya tetap hadir dalam ketegasan sikap dan kedalaman lirik. Bersama saudara-saudaranya, ia menorehkan karya yang menyentuh seluruh lapisan masyarakat, dari pejabat tinggi hingga rakyat kecil.

Lagu-lagu Bimbo bukan sekadar hiburan. Ia hadir sebagai doa, renungan, bahkan kritik sosial. Simaklah lirik sederhana namun mendalam:

𝑆𝑒𝑡𝑖𝑎𝑝 ℎ𝑎𝑏𝑖𝑠 𝑅𝑎𝑚𝑎𝑑ℎ𝑎𝑛 𝐻𝑎𝑚𝑏𝑎 𝑟𝑖𝑛𝑑𝑢 𝑙𝑎𝑔𝑖 𝑅𝑎𝑚𝑎𝑑ℎ𝑎𝑛 𝑆𝑎𝑎𝑡 𝑠𝑎𝑎𝑡 𝑝𝑎𝑑𝑎𝑡 𝑏𝑒𝑟𝑖𝑏𝑎𝑑𝑎ℎ 𝑇𝑎𝑘 𝑡𝑒𝑟ℎ𝑖𝑛𝑔𝑔𝑎 𝑛𝑖𝑙𝑎𝑖 𝑚𝑎ℎ𝑎𝑙𝑛𝑦𝑎

𝑆𝑒𝑡𝑖𝑎𝑝 ℎ𝑎𝑏𝑖𝑠 𝑅𝑎𝑚𝑎𝑑𝑎𝑛 𝐻𝑎𝑚𝑏𝑎 𝑐𝑒𝑚𝑎𝑠 𝑘𝑎𝑙𝑎𝑢 𝑡𝑎𝑘 𝑠𝑎𝑚𝑝𝑎𝑖 𝑈𝑚𝑢𝑟 ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎 𝑑𝑖 𝑡𝑎ℎ𝑢𝑛 𝑑𝑒𝑝𝑎𝑛 𝐵𝑒𝑟𝑖𝑙𝑎ℎ ℎ𝑎𝑚𝑏𝑎 𝑘𝑒𝑠𝑒𝑚𝑝𝑎𝑡𝑎𝑛

— penggalan ini menjadi doa yang dinyanyikan jutaan orang, menyusup ke ruang ibadah dan hati umat.

Sejak kecil, Sam, Acil, dan Jaka telah akrab dengan musik. Mereka terinspirasi oleh Sam Saimun hingga Elvis Presley, sebelum akhirnya menemukan identitas musikal yang khas: puitis, romantis, dan religius. Dari Bandung, suara mereka menggema ke seluruh negeri.

Lagu-lagu seperti Cinta, Sendiri, Gubahanku, hingga Melati dari Jayagiri menjadi bukti abadi bahwa kesederhanaan bisa melahirkan keindahan. Di dalamnya ada satire, ada doa, ada cinta, ada kritik sosial. Kang Acil, dengan suara khasnya, menjadikan lirik itu berjiwa.

Dalam rentang lebih dari empat dekade, Bimbo telah merekam lebih dari 200 album. Bayangkan betapa luasnya jejak musik yang mereka tinggalkan. Kang Acil bukan hanya seorang penyanyi, ia adalah bagian dari sejarah panjang budaya musik Indonesia.

Di usia senjanya, Acil kian menapaki jalan spiritual. Ia kerap berbicara tentang hidup sebagai perjalanan jiwa. Bersama seniman-seniman lain, ia merenungi makna hidup, bukan sekadar musik. Ia percaya bahwa harmoni sejati ada dalam kesadaran manusia akan Tuhannya.

Beberapa tahun terakhir, kesehatannya memang menurun. Ia kerap keluar-masuk rumah sakit karena komplikasi. Namun, di tengah kelemahan tubuhnya, Kang Acil tetap hadir, tetap tersenyum, tetap berbagi cerita. Kehadirannya menjadi penghibur keluarga dan sahabat.

Pesan terakhirnya sederhana, namun penuh makna: “Jaga lagu-lagu itu, jangan sampai hilang.” Bagi Acil, karya bukan sekadar milik pribadi, melainkan warisan bangsa. Ia ingin musik Bimbo tetap hidup, menemani generasi demi generasi.

Jika kita dengarkan Sajadah Panjang, karya kolaborasi dengan Taufiq Ismail, kita tahu betapa kuatnya sisi religius Bimbo. Liriknya adalah doa yang dinyanyikan. Kang Acil mempercayai bahwa musik bisa menjadi jalan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Banyak tokoh memberi penghormatan.

Sejumlah rekan artis dan publik figur juga terlihat memberikan komentar duka cita di kolom komentar, di antaranya Ernest Cokelat dan Chand Parwez. Ungkapan itu menegaskan bahwa Kang Acil "hidup" bukan hanya di jamannya, tapi sampai sekarang.

Kini, Kang Acil memang telah tiada. Namun musiknya tetap hidup. Ia meninggalkan doa dalam bentuk nada, cinta dalam bentuk lirik, dan renungan dalam setiap bait. Selamat jalan, Kang Acil. Suaramu adalah gema zaman. Musikmu adalah doa yang tak akan pernah usai.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.