VISI | Jokowi: Di "Downgrade" di Dalam Negeri, Di "Upgrade" di Luar Negeri
Kedua, mungkin juga ada jaringan elit politik dan bisnis di dalam negeri yang melihat posisi Jokowi di lembaga internasional ini sebagai aset penting. Dengan jaringan internasional yang kuat, Jokowi dan pendukungnya bisa mendapatkan perlindungan dari tekanan politik domestik yang makin tajam, serta membuka akses bagi peluang ekonomi dan investasi baru bagi Indonesia.
Meski demikian, langkah ini juga memunculkan tantangan. Apakah keterlibatan Jokowi di kancah internasional ini benar-benar memberikan manfaat bagi kemajuan ekonomi Indonesia? Ataukah justru menjadi jalan untuk mengabaikan kritik domestik dan mempertahankan status quo elit yang ada?
Secara positif, kehadiran Jokowi di Dewan Penasihat Bloomberg bisa membuka peluang dialog langsung dengan pemimpin ekonomi dunia, membuka akses teknologi, investasi, dan kebijakan yang berpihak pada negara berkembang. Ini bisa memperkuat posisi Indonesia di era ekonomi global yang kian kompetitif dan berubah cepat.
Namun, risiko destruktif juga nyata. Jika posisi ini digunakan hanya sebagai “tameng” untuk menutupi kegagalan pengelolaan ekonomi domestik, maka itu bisa memperlemah akuntabilitas pemerintahan dan mendorong ketimpangan semakin melebar. Dana publik yang sudah terbebani utang besar, jika tidak dikelola dengan transparan, malah berpotensi memperburuk kondisi ekonomi rakyat.
Kisah Jokowi adalah cermin dari paradoks Indonesia saat ini: di satu sisi, negara besar dengan potensi ekonomi luar biasa; di sisi lain, masih bergulat dengan persoalan tata kelola, korupsi, dan tekanan politik yang berat. Keanggotaan Jokowi di Bloomberg New Economy Advisory Board bisa menjadi jembatan penghubung yang membawa Indonesia ke masa depan yang lebih baik—jika benar-benar dimanfaatkan untuk kepentingan nasional.
Tapi, jika hanya menjadi ajang pencitraan internasional tanpa menyelesaikan masalah dasar di dalam negeri, maka “upgrade” ini bisa jadi sekadar ilusi yang tidak berdampak nyata bagi rakyat banyak.
Cerita Jokowi yang “didowngrade” di dalam negeri, tetapi “diupgrade” di panggung dunia, mengingatkan kita pada pentingnya sinergi antara prestasi domestik dan pengakuan global. Karena tanpa fondasi kuat di dalam negeri, semua pengakuan di luar negeri hanyalah bunga di atas tanah yang retak.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!