VISI | Jokowi: Di "Downgrade" di Dalam Negeri, Di "Upgrade" di Luar Negeri
Belum lagi segudang masalah lain yang ikut menimpa pemerintahan Jokowi, mulai dari penanganan pandemi yang penuh kontroversi, hingga isu kebebasan berpendapat yang semakin sempit. Di tengah semua tekanan ini, popularitas Jokowi dalam negeri terlihat mengalami “downgrade” yang signifikan.
Namun, di belahan dunia lain, kisah Jokowi berbeda. Pada April 2025, pengumuman mengejutkan datang: Jokowi resmi menjadi anggota Bloomberg New Economy Advisory Board, sebuah forum global yang mengumpulkan pemimpin dunia, CEO perusahaan multinasional, dan tokoh intelektual terkemuka untuk membahas tantangan ekonomi masa depan. Bergabung dengan nama-nama besar seperti Michael Bloomberg, Mario Draghi, dan Gina Raimondo, Jokowi mendapatkan panggung internasional yang jauh dari hiruk-pikuk politik domestik.
Apa sebenarnya Bloomberg New Economy Advisory Board ini? Didirikan oleh Michael Bloomberg sejak 2018, lembaga ini bertujuan menjadi forum strategis global yang membahas transformasi ekonomi dunia, terutama di tengah perubahan iklim, revolusi teknologi, dan ketimpangan sosial-ekonomi. Anggota dewan ini bukan hanya sekadar simbol, tapi diharapkan memberikan arahan dan kontribusi nyata dalam mengatasi masalah-masalah global yang kompleks.
Jokowi, dengan pengalamannya memimpin negara sebesar Indonesia selama dua periode, dianggap punya nilai strategis bagi forum ini, terutama dalam perspektif ekonomi negara berkembang. Keanggotaannya di lembaga bergengsi ini bukan hanya sebagai pengakuan pribadi, tetapi juga sebagai pintu masuk bagi Indonesia ke dalam jaringan elit pengambil keputusan global.
Lalu, bagaimana bisa seorang yang menghadapi berbagai tekanan politik dan skandal dalam negeri justru mendapat “upgrade” di dunia internasional? Ada dua kemungkinan yang patut dicermati.
Pertama, ini adalah upaya dari aktor-aktor internasional dan domestik tertentu untuk “menyelamatkan” reputasi Jokowi agar tetap berpengaruh di kancah global. Memasukkan Jokowi ke dalam lembaga elit seperti Bloomberg New Economy Advisory Board bisa jadi merupakan bentuk strategi diplomasi “soft power”—membuka peluang bagi Jokowi tetap berperan aktif dan menjaga citra positif Indonesia di luar negeri.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!