Oleh Nuslih Jamiat
Mekkah, 1.400 Tahun yang Lalu - Pasar Ukaz yang Legendaris
PASAR Ukaz digelar setiap tanggal 1-20 Dzul Qa'dah dan dikenal sebagai pasar kuna yang terkenal sejak tahun 500 sebelum
Masehi di semenanjung Arabia (
TribunNews) . Ini
bukan pasar biasa—ini adalah "Amazon-nya" zaman dulu.
Pasar Ukaz terletak di antara Thaif dan Mekkah, menjadi tempat berkumpulnya para pedagang dari Yaman, Syam, Persia, dan wilayah lainnya yang memperdagangkan berbagai barang seperti kain, rempah-rempah, dan perhiasan Yunandra.
Bayangkan: ribuan pedagang dari berbagai
negara, ratusan
unta membawa barang dagangan, dan puluhan ribu pengunjung yang datang untuk berbelanja dan berbisnis. Pasar Ukaz tidak hanya dikunjungi oleh orang-orang Quraisy, tetapi juga
raja-raja dan pangeran dari seluruh semenanjung Arab CNBC
Indonesia. Dan di tengah keramaian itu, ada seorang
pemuda yang terkenal dengan kejujurannya: Muhammad bin
Abdullah.
Pedagang Internasional Berusia 25 Tahun
Berdasarkan catatan
sejarah, Muhammad mengunjungi pasar Ukaz sebanyak tujuh kali TribunNews. Tapi Rasulullah tidak hanya berjualan di Mekkah. Beliau adalah pedagang internasional sejati.
Tatkala Hasyim bin Abdul Manaf (kakek besar Rasulullah) menjadi tokoh
penting di Mekkah, dia berhasil membuka jalur perdagangan setahun dua kali bagi orang-orang Quraisy: ke Yaman dan Syiria Kapol. Jalur sutra menghubungkan antara wilayah
China sampai ke
Eropa dan
Afrika, dengan
daerah yang dilewati meliputi
Nusantara,
India, Jazirah Arabi,
Asia Tengah, Syam sampai Negeri
Mesir Nursyamcentre. Dan Rasulullah
SAW adalah bagian dari jalur perdagangan internasional ini.
Prinsip Dagang yang Revolusioner
Yang membuat Rasulullah berbeda adalah prinsip perdagangan yang adil dan
transparan di tengah dunia
bisnis yang penuh
kecurangan. Apa yang dilakukan Muhammad di pasar Ukaz adalah menjual beberapa barang seperti kurma, anggur, gandum dan sejenisnya dengan menimbang berat tersebut sesuai dengan ukurannya, tidak mengurangi sedikitpun, sehingga kejujuran dan ketepatannya dalam menimbang sudah tersebar dimana-mana (
TribunNews).
Nabi Muhammad SAW, yang dikenal sebagai Al-Amin, menjadi
teladan utama dalam berdagang dengan jujur dan penuh
integritas Yunandra. Bahkan di Pasar Ukaz, Rasulullah SAW berdakwah dan mengajak berbagai kabilah untuk memeluk
Islam Snki—membuktikan bahwa pasar bukan hanya tempat bisnis, tapi juga tempat menyebarkan kebaikan.
Fast Forward 1.400 Tahun: Pasar Ukaz Jadi Marketplace Digital
Sekarang, mari kita loncat ke tahun 2025. Pasar Ukaz yang dulu ramai dengan unta dan pedagang kini berevolusi menjadi marketplace digital seperti
Shopee, Tokopedia, dan
TikTok Shop.
Menurut
survei APJII pada 2025, mayoritas responden sering mengakses Shopee, ada pula yang sering mengakses TikTok Shop, Tokopedia, dan Lazada iNews. Nilai transaksi e-commerce di Indonesia diproyeksikan mencapai Rp487 triliun pada tahun 2024, dan tingkat penetrasi e-commerce pada tahun
2023 mencapai 21,56% yang diperkirakan akan terus meningkat hingga mencapai 34,84% pada tahun 2029 (
Waspada) .
Angka yang fantastis. Tapi pertanyaannya: apakah prinsip perdagangan Rasulullah masih relevan di
era digital ini? Jawabannya:
Sangat Relevan.
Pesantren Masuk Marketplace—Prinsip Rasulullah di Era Digital
Transformasi: Dari Lapak Fisik ke Toko Online
Pak Kholil, pengurus
koperasi di sebuah pesantren di Jombang, punya cerita menarik. "Dulu kami hanya jualan produk pesantren—madu, kurma,
buku kitab—di toko fisik dekat pesantren. Pembelinya ya cuma
santri, alumni yang datang, atau
masyarakat sekitar. Omzetnya stagnan."
Tahun 2023, saat
pandemi mereda dan
ekonomi digital
meledak, Pak Kholil memberanikan diri membuka toko online di Shopee dan Tokopedia. "Awalnya saya ragu. Apa produk pesantren laku di marketplace? Ternyata... Alhamdulillah, dalam 6 bulan pertama omzet naik 300%. Yang beli bukan cuma dari
Jawa Timur, tapi dari
Papua,
Kalimantan, bahkan dari
Malaysia"
Prinsip Rasulullah dalam E-Commerce Pesantren
Yang menarik, Pak Kholil tetap memegang prinsip Rasulullah SAW dalam berjualan online:
1.
Kejujuran dalam Deskripsi Produk
"Kalau madu ada sedikit endapan, kami tulis jelas di deskripsi. Kalau buku ada lecet di sampul, kami foto dan tulis keterangannya. Kami nggak mau pelanggan
kecewa," kata Pak Kholil. Seperti Rasulullah yang tidak mengurangi sedikitpun dalam menimbang TribunNews, toko online pesantren ini tidak mengurangi detail
informasi produk sedikitpun.
2.
Transparansi Harga dan Ongkir
"Kami pasang harga yang jelas. Ongkir pakai sistem dari marketplace, jadi pelanggan
tahu persis berapa yang harus dibayar. Tidak ada
biaya tersembunyi." Prinsip ini sejalan dengan Rasulullah yang bahkan memberitahu harga modal barangnya kepada pembeli.
3.
Pelayanan yang
Ramah dan Responsif
"Kami latih santri senior untuk jadi CS (customer service). Mereka fast respon, sopan, dan sabar menjawab pertanyaan pelanggan berulang-ulang. Bahkan kalau ada komplain, kami selesaikan dengan baik."
Tren tahun 2024 menunjukkan bahwa
konsumen mengharapkan konektivitas dan pengalaman belanja yang lebih personal dan efisien Madaninews. Dan pesantren bisa memberikan itu dengan pelayanan yang penuh
akhlak.
4.
Produk Berkualitas dan Halal
"Semua produk kami pastikan halal dan berkualitas. Madu asli tanpa campuran, kurma pilihan, buku cetakan rapi. Reputasi pesantren dipertaruhkan di sini."
Data E-Commerce 2025: Peluang Besar untuk Pesantren
E-commerce Indonesia diprediksi tumbuh dengan CAGR 19% untuk periode 2024-2027, dengan nilai transaksi mencapai US$125 miliar di tahun 2027 Jatimsatunews. Pasar yang sangat besar. Tiga kategori produk yang mencatatkan pertumbuhan transaksi online tertinggi pada tahun 2024 adalah FMCG (Fast Moving Consumer Goods) dengan pertumbuhan 90,45%, Beauty & Personal Care 62,07%, dan
Ibu dan
Anak 35,52% (
Waspada).
Produk pesantren bisa masuk di semua kategori ini:
FMCG: Madu, kurma,
minyak zaitun,
makanan halal.
Beauty & Personal Care: Minyak habbatussauda, sabun herbal, skincare halal.
Ibu dan Anak: Buku anak Islami, mainan edukatif, pakaian
muslim anak.
Tren Live Shopping: Pesantren Harus Ikut.
Live shopping rapidly gaining traction, dengan 6 dari 10 shoppers di Indonesia making purchases melalui live shopping platforms pada 2024 Jatimsatunews. Bayangkan: Ustadz atau santri senior live di TikTok Shop atau Shopee Live, menjelaskan manfaat madu pesantren sambil menunjukkan kualitasnya secara langsung. Jamaah dan alumni bisa tanya-jawab real-time, lalu langsung beli. Engagement-nya tinggi, conversion rate juga tinggi.
Tips Praktis: Pesantren Masuk Marketplace
Step 1: Pilih Platform yang Tepat
Platform yang sering diakses masyarakat Indonesia pada 2025: Shopee (paling populer), TikTok Shop, Tokopedia, dan Lazada iNews.
Saran: Mulai dari Shopee dan TikTok Shop. Shopee karena paling banyak pengunjung, TikTok Shop karena tren live shopping-nya kuat.
Step 2: Foto Produk yang Menarik
Pakai HP yang kamera bagus, lighting yang cukup, background yang bersih. Foto dari berbagai angle. Jangan asal foto.
Step 3: Deskripsi yang Detail dan Jujur
Tulis spesifikasi lengkap, manfaat produk, cara pakai, dan yang penting: jujur soal kekurangan kalau ada.
Step 4: Harga Kompetitif tapi Tetap Untung
Riset harga kompetitor. Jangan terlalu mahal (nggak laku), jangan terlalu murah (rugi atau dicurigai palsu).
Step 5: Pelayanan Prima
Fast response (maksimal 2 jam), sopan, sabar, dan solutif. Ini modal terbesar!
Step 6: Manfaatkan Fitur Marketplace
Ikut flash sale dan promo
Pakai voucher
gratis ongkir
Optimalkan SEO produk (keyword yang tepat)
Kumpulkan review positif dari pembeli
Dari Pasar Ukaz ke Shopee, Ruhnya Sama
Pak Kholil kini tersenyum puas melihat dashboard tokonya. Bulan ini omzetnya tembus Rp50 juta—angka yang mustahil dicapai kalau hanya jualan offline. "Alhamdulillah, dari omzet ini kami bisa
bantu operasional pesantren, kasih
beasiswa santri tidak mampu, dan yang penting—kami tetap berpegang pada prinsip Rasulullah: jujur,
amanah, transparan, dan profesional," katanya. Pasar memang berubah—dari Pasar Ukaz ke marketplace digital. Tapi prinsip perdagangan Islam tidak berubah: kejujuran,
keadilan, transparansi, dan
kualitas.
Untuk menjawab tantangan 2025, pelaku usaha perlu berfokus pada adaptasi dan
inovasi perkembangan
teknologi di kanal-kanal penjualan online, seperti melalui
optimalisasi video commerce serta menghadirkan pengalaman berbelanja yang berbasis omnichannel (
Madaninews) .
Mari pesantren-pesantren di Indonesia ikut meramaikan marketplace dengan produk-produk berkualitas dan halal. Dari pesantren, untuk
umat, dengan cara yang diajarkan Rasulullah SAW.
Wallahu a'lam bishawab. Semoga bisnis online pesantren berkembang pesat dengan tetap menjaga nilai-nilai Islam.
Aamiin Ya Rabbal Alamin.