VISI | Jabatan Itu Amanah

ED
Jumat, 7 November 2025 | 05:24 WIB
Bagikan
VISI | Jabatan Itu Amanah

Oleh Idat Mustari

DI TENGAH suasana pelantikan pejabat baru, suasana sering kali dipenuhi senyum dan tepuk tangan. Jabatan tampak seperti puncak pencapaian, simbol kepercayaan dan prestise. Namun dalam perspektif Islam, jabatan bukan sekadar kehormatan, melainkan ujian yang berat—sebuah amanah yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah.

Dalam kehidupan sehari-hari, Amanah terbagi dalam tiga tingkatan utama: pertama, Amanah Diniyah, yakni kewajiban kepada Allah, mencakup pelaksanaan ibadah seperti shalat dan puasa, serta menjaga lisan. Kedua, Amanah Dzatiyah, yakni kewajiban kepada diri sendiri, seperti menjaga kesehatan dan memanfaatkan potensi atau waktu dengan baik. Ketiga, Amanah Ijtima'iyah, yakni kewajiban kepada sesama manusia, termasuk menjaga titipan, kerahasiaan, dan menunaikan janji.

Amanah terbesar dirujuk dalam Surah Al-Ahzab ayat 72: {Innā 'araḍnal-amānata 'alas-samāwāti wal-arḍi wal-jibāli... wa ḥamalahal-insān, innahụ kāna ẓalụman jahụlā}. Ayat ini menceritakan bahwa langit, bumi, dan gunung-gunung menolak untuk memikul amanah tersebut karena khawatir berkhianat, tetapi manusia menerimanya. Para ulama tafsir sepakat bahwa amanah ini merujuk pada beban syariat (Taklif), yaitu perintah dan larangan Allah, serta kebebasan berkehendak (Ikhtiyar) untuk memilih antara ketaatan dan kekafiran, yang menjadi dasar pertanggungjawaban.

Penerimaan amanah oleh manusia diakhiri dengan deskripsi "amat zalim (ẓalūman) dan amat bodoh (jahūlā)". Deskripsi ini dipandang sebagai peringatan preventif atas potensi manusia untuk mengkhianati atau melalaikan konsekuensi besar dari tanggung jawab tersebut.

Rasulullah Saw., mengingatkan dalam hadis sahih, “Sesungguhnya kepemimpinan itu adalah amanah, dan pada hari kiamat akan menjadi penyesalan kecuali bagi yang menunaikannya dengan benar.” (HR. Muslim).

Hadis ini menegaskan bahwa kekuasaan bukan ruang untuk bermegah, melainkan ladang pengabdian. Dalam pandangan Islam, pemimpin sejati adalah pelayan, bukan penguasa. Ia dituntut adil, jujur, dan menjaga hak-hak rakyatnya, bahkan terhadap hal-hal kecil sekalipun.

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.