VISI | Indonesia dan Kemerdekaan yang Masih Diperdebatkan

ED
Sabtu, 16 Agustus 2025 | 07:04 WIB
Bagikan
VISI | Indonesia dan Kemerdekaan yang Masih Diperdebatkan

Bung Karno jauh-jauh hari sudah memperingatkan: di masa depan, musuh yang kita hadapi adalah bangsa kita sendiri yang menjadi alat penjajah. Kuda troya itu kini bisa berupa pejabat, pengusaha, atau figur publik yang diam-diam menyandarkan nasibnya pada kekuatan asing.

Sejak Konferensi Meja Bundar, perang senjata memang berhenti. Namun perang intelijen dimulai. Belanda tidak sendirian — Inggris, Australia, dan Amerika Serikat ikut serta. Misinya: memastikan Indonesia tidak pernah terlalu mandiri secara politik maupun ekonomi.

Kita tidak bisa lupa pertempuran Surabaya 10 November 1945. Satu batalion tentara reguler, dibantu ribuan santri pesantren yang tergerak oleh Resolusi Jihad KH Hasyim Asy’ari, melawan 200.000 pasukan sekutu. Mereka bahkan berhasil menewaskan Brigjen Mallaby, komandan pasukan Inggris di Surabaya.

Namun, betapa ironisnya ketika kontribusi ulama dan santri itu dihapus dari narasi resmi sejarah. Buku pelajaran lebih banyak memuja tokoh sekuler dan mengaburkan peran Islam dalam kemerdekaan. Generasi sekarang nyaris tak pernah mendengar nama-nama santri pejuang itu.

Belanda paham betul, pesantren adalah benteng yang sulit ditembus. Maka mereka membangun sekolah-sekolah umum. Alasannya bukan hanya untuk “mencerdaskan” bangsa, tetapi untuk mengalihkan anak muda dari tradisi perlawanan santri.

Tahun 2005, sebuah gerakan bernama Komite Utang Kehormatan Belanda lahir. Tujuannya: menuntut pengakuan kemerdekaan Indonesia secara de jure. Tapi, seperti biasa, lawan terbesarnya bukan hanya di luar negeri, melainkan di dalam negeri sendiri — orang-orang yang memilih diam atau bahkan melemahkan perjuangan itu.

Di dunia penelitian sejarah, permainan ini juga terjadi. Banyak penulis Indonesia dibiayai oleh Belanda untuk meneliti suatu peristiwa. Lalu hasil riset itu “disunting” di sana sebelum kembali dibawa ke sini sebagai “kebenaran ilmiah”.

Akibatnya, generasi muda dijejali versi sejarah yang meremehkan pahlawannya sendiri. Perang Diponegoro misalnya, dikisahkan sekadar karena tanah sang pangeran diambil Belanda — padahal faktanya, perlawanan itu membuat Belanda nyaris bangkrut.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.