VISI | "In The Book!"

ED
Senin, 15 Januari 2024 | 20:11 WIB
Bagikan
VISI | "In The Book!"

Oleh Aep S Abdullah

SAHABATKU, Syakieb Ahmad Sungkar pernah bercerita. Menurutnya, jebolan perguruan tinggi itu ada tiga kategori. Pertama, golongan yang waktu di kampus urakan dan lupa sama pelajaran. "Golongan ini, saat meninggalkan kampus dan bekerja biasanya masuk kelompok out of the box. Namanya tidak pernah masuk dalam bok struktur inti organisasi perusahaan. Mereka jarang yang menduduki posisi penting di perusahaan," ujar mantan top eksekutif di salah satu BUMN yang sekarang mendalami filsafat dan kolektor lukisan mahal ini.

Kedua, kata sahabatku ini, golongan yang sedikit urakan tapi bertanggungjawab pada pendidikannya. Ia senang baca buku dan hal-hal yang baru, nonton pertunjukan musik dan film, modis serta suka bergaul. Ia bisa menyelesaikan kuliah dikampusnya meski tidak sedikit yang terlambat. "Golongan ini, saat bekerja biasanya masuk in the box, kerap masuk dalam posisi penting di perusahaan", katanya. Kenapa? "Karena faktor nakal menjadikan dia berani sedikit-sedikit nubruk aturan," jelasnya.

"Yang paling berbahaya," katanya. "Golongan yang waktu kuliah rajin, tak sehari pun waktu yang terlewatkan untuk mengikuti pelajaran, kutu buku, dan textbook".

Lho kok?

"Golongan ini yang disebut in the book!," tandasnya. "Lulus kuliah paling tepat bekerja di Lab.!".

Apa yang Sakieb katakan ada benarnya juga. Orang yang nakal-nakal dikit rata-rata banyak temannya. Interaksi sosialnya berjalan sehingga ia lebih toleran dan punya jejaring. Ia tidak egois dan fikirannya relatif terbuka. Jejaring pertemanan bisa lebih penting dari pada nilai akademis.

Jejaring teman, kata Andrie Wongso, seorang motivator dan penulis buku, salah satu kunci untuk membuka pintu-pintu peluang. Dengan memiliki jejaring teman yang luas dan beragam, kita akan mendapatkan akses ke informasi, ide, dan sumber daya yang mungkin tidak kita ketahui sebelumnya. Kita juga akan mendapatkan referensi, rekomendasi, dan testimoni dari orang-orang yang sudah mengenal kita dan percaya pada kemampuan kita. Kita harus aktif berkomunikasi, berinteraksi, dan berbagi dengan orang-orang yang kita temui. Kita harus menjaga hubungan baik dengan mereka dan selalu memberikan nilai tambah bagi mereka.

Senada yang diungkapkan James Gwee, seorang motivator dan trainer. Ia menyebutkan jejaring teman adalah salah satu cara untuk belajar dan berkembang. Dengan memiliki jejaring teman yang kompeten dan profesional, kita akan mendapatkan masukan, feedback, dan saran yang konstruktif untuk meningkatkan kualitas diri dan kinerja kita. Kita juga akan mendapatkan inspirasi, motivasi, dan tantangan dari mereka untuk terus berinovasi dan berkreasi.

Kita harus bersikap terbuka, rendah hati, dan mau menerima kritik dan saran dari teman-teman kita. Kita juga harus mau berbagi pengetahuan, pengalaman, dan keahlian kita dengan mereka. Kita harus saling menghargai, menghormati, dan mendukung satu sama lain.

Oleh karena itu yang paling mudah dalam berinteraksi sosial untuk membangun jejaring adalah memposisikan diri sebagai "Nothing". Jabatan, gelar akademis, pengetahuan yang kita miliki, atau kekayaan, kadang memberikan jarak dalam berinteraksi sosial yang tulus dan ikhlas. Orang yang diajak berteman tidak butuh itu semua. Mereka hanya butuh sikap tulus dan mendapat kesan Anda adalah orang baik. Bukan orang egois apalagi sombong.

Jadi, aneh juga pada masa kampanye ini di APK ada juga Caleg yang mencantumkan gelar begitu banyak, jabatan yang tinggi, tapi tidak punya kehangatan dalam pergaulan sosial. Tidak punya jejaring. Tidak pernah bisa menumbuhkan rasa simpati masyarakat di dapilnya. Siapa yang akan memilih mereka?

Bergaul itu memang harus dengan orang lain jangan dengan diri sendiri apalagi kalau hanya dengan kertas!. ***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.