VISI | Hidup di Indonesia: Murah atau Mahal?
Oleh Aep S Abdullah
HIDUP di Indonesia semakin terasa berat bagi banyak masyarakat. Dengan pendapatan per kapita sekitar USD 4.920 per tahun (sekitar Rp 77 juta), daya beli masyarakat terus melemah. Jika dibandingkan dengan negara lain di Asia Tenggara, angka ini masih lebih rendah dari Malaysia (USD 12.090) dan Thailand (USD 7.340), tetapi lebih tinggi dari Filipina (USD 3.910) dan Vietnam (USD 4.320). Namun, apakah ini berarti hidup di Indonesia murah atau mahal?
Faktanya, biaya hidup di Indonesia memang relatif lebih rendah dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Berdasarkan indeks biaya hidup global, Indonesia mendapat skor 32,20, yang lebih rendah dari Thailand (38,62) dan Malaysia (34,41). Namun, rendahnya biaya hidup ini tidak serta-merta menunjukkan kesejahteraan masyarakat yang lebih baik.
Banyak kebutuhan dasar yang terus mengalami kenaikan harga. Harga bahan pokok seperti beras, minyak goreng, dan gula terus melonjak tanpa diimbangi dengan kenaikan pendapatan yang sebanding. Selain itu, harga BBM di Indonesia termasuk tinggi dibandingkan Malaysia yang memiliki subsidi lebih besar.
Salah satu sektor yang paling terdampak adalah industri ritel. Banyak toko tutup akibat sepinya pembeli, sementara pusat perbelanjaan mulai kehilangan pelanggan tetapnya. Banyak masyarakat yang kini lebih memilih berhemat dan hanya membeli barang yang benar-benar diperlukan.
Di sektor properti, harga rumah dan tanah terus meningkat, membuat banyak anak muda semakin sulit memiliki rumah sendiri. Kontrakan toko banyak yang kosong karena pengusaha kecil kesulitan bertahan di tengah daya beli yang lemah. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun biaya hidup di Indonesia relatif rendah, akses terhadap kebutuhan primer tetap menjadi tantangan.
Dari sisi transportasi, biaya di Indonesia juga cukup tinggi. Harga BBM yang terus naik berdampak langsung pada tarif transportasi umum. Di sisi lain, infrastruktur transportasi di beberapa kota masih belum optimal, membuat masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih untuk mobilitas.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!