VISI | Darurat Sekolah Adab

ED
Jumat, 21 November 2025 | 04:28 WIB
Bagikan
VISI | Darurat Sekolah Adab

Oleh Drajat

BERBICARA dunia pendidikan di negeri ini selalu seperti membuka lembaran panjang yang belum tuntas. Kita tahu, selama kehidupan masih berjalan, pendidikan akan selalu menjadi medan perjuangan. Pendidikan adalah ikhtiar peradaban. Tanpa pendidikan, sebuah bangsa akan kehilangan arah, dan tanpa adab, pendidikan kehilangan rohnya.

Sayangnya, di tengah harapan besar untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, kita justru menyaksikan kenyataan yang mencemaskan. Sudah berganti menteri, berganti kurikulum, berganti istilah, berganti program—namun pergerakan kualitas pendidikan kita sering kali berjalan di tempat, bahkan perlahan tampak menurun. Yang berubah kadang hanya sampulnya, bukan isinya. Yang ramai dibicarakan kadang lebih banyak struktur administrasi daripada karakter generasi.

Pada titik inilah, kita harus jujur: Indonesia sedang darurat adab. Dan dunia pendidikan, dengan segala kerapuhan sistemnya, sedang berada di episentrum krisis itu.

Sungguh ironis menyaksikan penyelenggara negara—yang seharusnya menjadi teladan adab—justru tampil dalam wajah yang berkebalikan. Kita menyaksikan tingkah para pejabat, dari pusat hingga daerah, yang lebih ingin dilayani daripada melayani. Mereka memegang mandat kekuasaan, tetapi lupa hakikatnya: kuasa adalah amanah, bukan kehormatan pribadi.

Tidak jarang kita melihat praktik-praktik korupsi yang kembali terulang. Ada pejabat yang tertangkap tangan, tetapi esoknya muncul lagi kasus yang serupa. Seolah-olah tindak korupsi itu hanya pergantian pemain, bukan perubahan sistem.

Yang lebih menyakitkan, bahkan wakil rakyat yang seharusnya menjadi cermin kebijaksanaan justru menunjukkan sikap merendahkan profesi lain. Kasus anggota dewan yang meremehkan profesi ahli gizi menjadi bukti betapa adab tidak otomatis tumbuh hanya karena seseorang duduk di kursi jabatan tinggi. Komentarnya yang menyatakan bahwa pekerjaan ahli gizi cukup dilakukan oleh lulusan SMA yang dilatih sebentar—serta merendahkan mereka yang mengkritiknya—menunjukkan betapa pendidikan akademik dapat ditempuh, tetapi pendidikan adab belum tentu tercapai.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.