Baznas Beri Beasiswa untuk 1.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT 26 Aug 2026 Ribuan ASN Dikerahkan Bersihkan Sisa Kebakaran Rumah Adat Sade 26 Aug 2026 Muktamar ke-35 NU Digelar di Jombang, Ini Jadwal Lengkapnya 26 Aug 2026 Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026 Green Canyon Pangandaran Diproyeksikan Jadi Destinasi Dunia 26 Aug 2026 Rekening AMPB Diblokir, Firnando: Pentingnya Klarifikasi Menyeluruh Pihak Terkait 26 Aug 2026 Masuk Desil 9 dan 10, Benarkah Tak Bisa Beli Pertalite? 26 Aug 2026 Jersey Baru Persib Diserbu Bobotoh, Pesanan Tembus 2.000 26 Aug 2026 Korban Tewas TPA Runtuh di Guinea Bertambah Jadi 34 26 Aug 2026 Baznas Beri Beasiswa untuk 1.000 Mahasiswa Terdampak Gempa NTT 26 Aug 2026 Ribuan ASN Dikerahkan Bersihkan Sisa Kebakaran Rumah Adat Sade 26 Aug 2026 Muktamar ke-35 NU Digelar di Jombang, Ini Jadwal Lengkapnya 26 Aug 2026 Soroti Risiko Pembiayaan Koperasi Merah Putih, Ida Nurlaela Minta Dana Desa Tak Jadi Penutup Gagal Bayar 26 Aug 2026 Kecam Pernyataan Budi Arie, Demokrat: Jangan Sampai Menimbulkan Aroma Manuver 26 Aug 2026 Green Canyon Pangandaran Diproyeksikan Jadi Destinasi Dunia 26 Aug 2026 Rekening AMPB Diblokir, Firnando: Pentingnya Klarifikasi Menyeluruh Pihak Terkait 26 Aug 2026 Masuk Desil 9 dan 10, Benarkah Tak Bisa Beli Pertalite? 26 Aug 2026 Jersey Baru Persib Diserbu Bobotoh, Pesanan Tembus 2.000 26 Aug 2026 Korban Tewas TPA Runtuh di Guinea Bertambah Jadi 34 26 Aug 2026

VISI | Bukuku Sayang, Bukuku Malang

ED
Senin, 29 September 2025 | 06:36 WIB
Bagikan
VISI | Bukuku Sayang, Bukuku Malang

Buku bukan sekadar benda mati. Ia adalah penyimpan memori kolektif bangsa. Melalui buku, kita bisa menengok kembali sejarah perjuangan, menelusuri jejak para pendiri bangsa, dan memahami arah peradaban. Seorang sejarawan, Barbara Tuchman, pernah menegaskan: “Books are the carriers of civilization. Without books, history is silent, literature dumb, science crippled.”

Jika buku terus diperlakukan sebagai barang yang mencurigakan, apa jadinya peradaban bangsa? Bagaimana generasi muda bisa belajar dengan jujur, kritis, dan penuh tanggung jawab? Jangan sampai bangsa ini kembali terjebak pada budaya anti-pengetahuan, di mana buku dianggap musuh, sementara kebodohan justru dipelihara.

Sudah saatnya kita kembali menempatkan buku di tempat yang mulia. Buku harus diperlakukan sebagai teman dialog, bukan musuh yang ditakuti. Jika ada isi buku yang dianggap tidak sesuai, diskusikanlah. Jika ada gagasan yang berbeda, lawanlah dengan gagasan. Bukan dengan penyitaan, apalagi penghapusan.

“Bukuku sayang, bukuku malang”—ungkapan ini semoga menjadi cambuk bagi kita semua. Sayang, karena buku adalah pusaka yang menghidupi akal dan jiwa. Malang, karena ia sering diperlakukan dengan cara yang tidak semestinya, bahkan oleh negeri yang katanya menjunjung tinggi demokrasi dan pendidikan.

Buku adalah cahaya. Cahaya yang kadang redup, kadang menyilaukan, tetapi tetap memberi terang. Jika cahaya itu dipadamkan, maka bangsa akan berjalan dalam gelap. Tugas kita bersama, terutama para guru, dosen, orang tua, dan pegiat literasi sejati, adalah menjaga agar cahaya itu tidak pernah padam. Karena melalui buku, sejarah bangsa akan terus terjaga, ilmu pengetahuan akan terus tumbuh, dan peradaban akan terus melangkah maju.**

Halaman :

1 2

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.