VISI | Bukuku Sayang, Bukuku Malang
Buku bukan sekadar benda mati. Ia adalah penyimpan memori kolektif bangsa. Melalui buku, kita bisa menengok kembali sejarah perjuangan, menelusuri jejak para pendiri bangsa, dan memahami arah peradaban. Seorang sejarawan, Barbara Tuchman, pernah menegaskan: “Books are the carriers of civilization. Without books, history is silent, literature dumb, science crippled.”
Jika buku terus diperlakukan sebagai barang yang mencurigakan, apa jadinya peradaban bangsa? Bagaimana generasi muda bisa belajar dengan jujur, kritis, dan penuh tanggung jawab? Jangan sampai bangsa ini kembali terjebak pada budaya anti-pengetahuan, di mana buku dianggap musuh, sementara kebodohan justru dipelihara.
Sudah saatnya kita kembali menempatkan buku di tempat yang mulia. Buku harus diperlakukan sebagai teman dialog, bukan musuh yang ditakuti. Jika ada isi buku yang dianggap tidak sesuai, diskusikanlah. Jika ada gagasan yang berbeda, lawanlah dengan gagasan. Bukan dengan penyitaan, apalagi penghapusan.
“Bukuku sayang, bukuku malang”—ungkapan ini semoga menjadi cambuk bagi kita semua. Sayang, karena buku adalah pusaka yang menghidupi akal dan jiwa. Malang, karena ia sering diperlakukan dengan cara yang tidak semestinya, bahkan oleh negeri yang katanya menjunjung tinggi demokrasi dan pendidikan.
Buku adalah cahaya. Cahaya yang kadang redup, kadang menyilaukan, tetapi tetap memberi terang. Jika cahaya itu dipadamkan, maka bangsa akan berjalan dalam gelap. Tugas kita bersama, terutama para guru, dosen, orang tua, dan pegiat literasi sejati, adalah menjaga agar cahaya itu tidak pernah padam. Karena melalui buku, sejarah bangsa akan terus terjaga, ilmu pengetahuan akan terus tumbuh, dan peradaban akan terus melangkah maju.**
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!