Herman: Pramuka Jabar Harus Cetak Generasi Pancawaluya 27 Aug 2026 CBN dan Alibaba Cloud Percepat Adopsi AI di Indonesia 27 Aug 2026 Studi FedEx-JA: 99 Persen Anak Muda Indonesia Ingin Lebih Siap Kerja 27 Aug 2026 Cuaca Bandung 27 Agustus 2026, Hujan Ringan Berpotensi Turun di Sejumlah Wilayah 27 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal Sholat DKI Jakarta Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal Sholat Kabupaten Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Herman: Pramuka Jabar Harus Cetak Generasi Pancawaluya 27 Aug 2026 CBN dan Alibaba Cloud Percepat Adopsi AI di Indonesia 27 Aug 2026 Studi FedEx-JA: 99 Persen Anak Muda Indonesia Ingin Lebih Siap Kerja 27 Aug 2026 Cuaca Bandung 27 Agustus 2026, Hujan Ringan Berpotensi Turun di Sejumlah Wilayah 27 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Sumedang Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Cimahi Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kota Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal SIM Keliling Kabupaten Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal Sholat DKI Jakarta Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026 Jadwal Sholat Kabupaten Bandung Hari Ini, Kamis 27 Agustus 2026 27 Aug 2026

VISI | Bertengkar Itu Jelek

ED
Jumat, 8 Mei 2026 | 10:17 WIB
Bagikan
VISI | Bertengkar Itu Jelek
Oleh Idat Mustari AJARAN Islam menekankan pentingnya persaudaran sesama muslim (ukhuwah Islamiyah), sebagaimana dalam Firman Allah : “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati.” (QS.49 : 10).   Atas dasar inilah bahwa setiap orang yang beragama Islam meskipun tidak punya hubungan darah adalah saudara. Rasulullah saw mengumpamakan persaudaraan orang muslim dengan muslim lainnya bagaikan sebuah bangunan,” Perumpamaan kaum Mukminin dalam cinta-mencintai, sayang-menyayangi dan bahu-membahu, seperti satu tubuh. Jika salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh anggota tubuhnya yang lain ikut merasakan sakit juga, dengan tidak bisa tidur dan demam.”   Namun hubungan yang harmonis antar sesama orang Islam tidak selamanya berjalan indah, ketika terjadi perbedaan. Perbedaan bisa karena beda pikiran, beda paham, beda cara pandang termasuk beda dalam fiqih (ikhtilaf). Sebenarnya berbeda antara satu dengan yang lainnya adalah keniscayaan, yang jadi masalah adalah salah menyikapi perbedaan hingga berujung jadi pertengkaran.   Kesalahan orang adalah saat berbeda paham, beda fiqih lantas kita dengan mudah memvonis orang lain dengan kata “sesat,” “bid’ah,” atau kata lainnya yang berkonotasi negatif. Padahal seharusnya ada  ruang hikmah keraguan kepada orang lain yang kebetulan berbeda . Yaitu dengan satu pertanyaan dalam hati,”Oh, dia berbeda dengan saya, tapi jangan-jangan dia yang benar.” Dan ini yang diajarkan dalam Al-Quran.   Sekelas Imam Syafi’i yang tidak diragukan keilmuannya pun masih sempat berkata dalam ungkapannya yang terkenal,” "Pendapatku benar, tapi memiliki kemungkinan salah. Pendapat orang lain salah, tapi memiliki kemungkinan benar.”   Yang salah dalam menyikapi perbedaan adalah memastikan diri paling benar dan orang lain pasti salah. Kata Almarhum Cak Nur,  “orang seperti itu disebutkan dalam Al-Quran  sebagai orang yang terindikasi kemusyrikan, karena orang itu kemudian memutlakan pendapatnya sendiri.” “Janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, yaitu (yaitu) orang-orang yang memecah-belah agama mereka sehingga menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS.30 :31-32). Indikasi dari orang seperti ini adalah tidak mau shalat dibelakang kelompok orang lain yang berbeda paham dengan dirinya, karena dianggap sesat.   Tentu dan wajar jika orang yang dianggap “sesat,” “ahli bid’ah” pun melakukan perlawanan dalam rangka menjaga kehormatan dirinya, inilah yang jadi penyebab pertengkaran. Terlebih-lebih di era digital ini, sangat mudah memancing pertengkaran akibat ketidakmampuan menjaga telunjuk. Yang tanpa dipikir panjang, mudah menshare hal-hal yang bisa memancing pertengkaran. Padahal kata Imam Syafi’i saat menasihati muridnya Yunus bin Abdi,” Janganlah engkau berusaha untuk menjadi pemenang dalam setiap perbedaan pendapat. Sebab, terkadang meraih hati orang lain itu lebih utama daripada meraih kemenangan atasnya”. Dan memang, tidak ada satu dalil pun yang membenarkan  pertengkaran antar orang Islam, sebab bertengkar itu jelek. Wallahu’alam.***

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.