VISI | Berita di Era AI: Membantu atau Menyesatkan?
ED
Editor
M Purnama Alam
Sabtu, 20 Desember 2025 | 06:57 WIB
Oleh James Meese (RMIT University, Melbourne), Joanne Kuai (RMIT University, Melbourne), Shir Weinbrand (Queensland University of Technology, Brisbane)
KECERDASAN Buatan (AI) sedang membentuk ulang ekosistem berita, terutama dalam pencarian informasi, pemeriksaan fakta, dan penyediaan konten yang dipersonalisasi. Jika digunakan dengan baik, AI dapat mendukung jurnalisme dan memperkuat demokrasi.
AI sudah mengubah cara distribusi dan konsumsi berita. Dari distribusi berita berbasis algoritma dan agregator berita bertenaga AI hingga kebiasaan yang semakin populer menanyakan chatbot AI (seperti ChatGPT atau Gemini) untuk meringkas berita, teknologi ini semakin melekat dalam aliran informasi sehari-hari.
Namun, mengingat kurangnya pemahaman publik tentang cara kerja sistem AI, dikombinasikan dengan rendahnya literasi media dan AI, banyak orang menjadi bingung dan rentan membuat keputusan yang salah. Untuk memahami risiko tersebut, ada tiga bidang utama di mana AI membentuk ulang ekosistem berita: pencarian, pemeriksaan fakta, dan feed yang dipersonalisasi.
AI dalam Pencarian Berita
Ketik hampir semua pertanyaan di Google, dan Anda tidak lagi hanya mendapatkan daftar tautan. Sebagai gantinya, respons ringkasan pertama disediakan oleh alat AI Google, Gemini, yang didukung oleh large language models (LLM). “AI Overviews” ini mengumpulkan informasi dari seluruh web dan menyajikannya dalam bentuk ringkasan siap pakai.
Di sisi terbaiknya, mesin pencari berbasis LLM atau chatbot AI dengan kemampuan pencarian web bisa membantu orang memahami topik kompleks dengan cepat atau mendapatkan informasi terkini selama keadaan darurat. Namun, sistem ini masih jauh dari andal. Penelitian menunjukkan alat pencarian AI sering menghasilkan kesalahan fakta, memperkuat bias, dan salah atribusi informasi. Contoh awal, Google AI Overviews pernah menyarankan pengguna menempelkan lem di pizza agar keju menempel, atau menyarankan makan batu untuk kesehatan—kesalahan yang menyebar luas sebagai contoh ketidakandalan teknologi ini.
Meski Google telah memperkenalkan berbagai perbaikan, kekhawatiran tetap ada. Bahkan ketika alat menyediakan kutipan, informasi tersebut sering tidak akurat atau menyesatkan. Alat ini meminjam kredibilitas outlet berita yang sudah ada tanpa benar-benar mendukung mereka.
Meski demikian, sikap publik mulai berubah. Menurut Digital News Report 2025, satu dari lima orang Australia (21%) merasa nyaman dengan berita yang sebagian besar dibuat oleh AI—tingkat penerimaan lebih tinggi dibandingkan banyak negara lain. Di antara mereka yang tertarik pada berita AI, ringkasan berita (29%) dan rekomendasi cerita (22%) menjadi penggunaan yang paling menarik.
AI dalam Pemeriksaan Fakta
AI juga semakin digunakan untuk memeriksa fakta. Sementara pemeriksa fakta manusia masih bekerja, banyak tugas utama mereka mulai dialihkan ke mesin untuk mempercepat proses verifikasi.
Dikenal sebagai Automated Fact Checking (AFC), teknologi ini membantu menemukan klaim yang salah, mencari bukti untuk membuktikan atau menolak klaim, dan memverifikasi klaim. AFC menggunakan pemrosesan bahasa alami untuk mengelola sejumlah besar teks dan mengidentifikasi kategori relevan. Meskipun membantu, model ini belum sepenuhnya dapat diandalkan dan biasanya hanya bekerja untuk satu jenis klaim saja, bukan berbagai format seperti foto, data, atau video.
Personalisasi dan Rekomendasi Berita
AI juga digunakan untuk mendistribusikan berita melalui algoritma. Misalnya, feed berita Facebook atau algoritma TikTok, dan bahkan situs berita sederhana menggunakan algoritma untuk memilih konten yang ditampilkan, terutama bagi pengguna yang masuk ke akun mereka.
Meskipun ada kekhawatiran tentang filter bubble, penelitian menunjukkan personalisasi tidak seintens yang dikhawatirkan. Beberapa organisasi berita kini mulai membangun algoritma berita yang fokus pada kepentingan publik, bukan sekadar popularitas. Misalnya, organisasi publik Swedia mengembangkan metrik nilai publik agar algoritma mempromosikan konten yang penting bagi masyarakat.
Memperkuat, Bukan Menggantikan Jurnalisme
AI membawa beberapa efisiensi: mempercepat alur kerja redaksi, membantu audiens menavigasi isu kompleks, dan memperluas akses informasi lokal penting. Namun, AI juga dapat menyamarkan cerita, mendistorsi fakta, dan menghasilkan kesalahan meyakinkan yang tidak terdeteksi.
Masa depan berita yang dapat dipercaya bergantung pada bagaimana industri mengelola momen ini. Jika digunakan dengan bijak, AI dapat mendukung jurnalisme dan memperkuat demokrasi. Namun jika salah digunakan, AI berisiko melemahkan fondasi kewarganegaraan yang terinformasi.***
- Shir Weinbrand, ilmuwan komputasi dan mahasiswa PhD di Queensland University of Technology.
- Dr James Meese, associate professor di RMIT University, co-leader News, Technology, and Society Network, dan peneliti di ARC Centre of Excellence for Automated Decision-Making and Society (ADM+S).
- Dr Joanne Kuai, research fellow di RMIT University dan afiliasi di ADM+S.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!