VISI | Bencana Datang: Masihkah Pendidikan Abai pada Alam?
Oleh A. Rusdiana
BANJIR, longsor, tanah retak, sungai meluap. Hampir setiap akhir tahun, kita menyaksikan berita serupa di layar ponsel dan televisi. Namun, pertanyaan besarnya justru jarang kita ajukan: mengapa ini terus berulang, dan apa yang salah dengan cara kita mendidik generasi kita?
Selama ini, bencana sering kita anggap sebagai “takdir alam”. Padahal, semakin kita jujur melihat kenyataan, semakin tampak bahwa banyak bencana adalah hasil dari ulah manusia sendiri. Hutan digunduli tanpa kendali, sungai dijadikan tempat sampah, lahan hijau disulap menjadi beton. Ironisnya, semua ini terjadi bukan karena kita tidak tahu, melainkan karena kita terbiasa abai.
Di sinilah pendidikan seharusnya memainkan peran paling penting. Masalahnya, pendidikan lingkungan masih sering diposisikan sebagai pelengkap, bukan fondasi. Di sekolah, anak-anak diajari menghafal definisi ekosistem, tetapi jarang diajak menyentuh tanah, menanam pohon, atau memahami makna air bersih dalam kehidupan sehari-hari.
Kita mencetak siswa yang pintar dalam teori, tetapi rapuh dalam empati ekologis. Mereka tahu istilah “pemanasan global”, namun terbiasa memakai plastik sekali pakai tanpa rasa bersalah. Mereka hafal ayat tentang larangan merusak bumi, tetapi masih nyaman membuang sampah sembarangan.
Padahal, alam adalah ruang belajar paling jujur. Banjir adalah pelajaran tentang keserakahan. Longsor adalah pengingat tentang batas. Kekeringan adalah teguran tentang perilaku eksploitatif. Jika pendidikan gagal membaca pesan alam ini, maka kita sedang membangun peradaban yang cerdas secara intelektual, tetapi miskin secara ekologis.
Sudah saatnya pendidikan lingkungan tidak lagi menjadi mata pelajaran tempelan. Ia harus hidup dalam keseharian sekolah: dari kebiasaan membawa botol minum sendiri, pengelolaan sampah berbasis sekolah, hingga proyek menanam dan merawat pohon sebagai bagian dari pembelajaran. Pendidikan bukan hanya soal nilai akademik, tetapi tentang membentuk watak peduli bumi.
Bencana yang datang silih berganti seharusnya menjadi tamparan keras bagi dunia pendidikan. Kita tidak bisa terus mengajar anak-anak tentang masa depan, sementara kita membiarkan masa depan ekologis mereka runtuh pelan-pelan.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!