Viral Bocah 4 Tahun Memulung, Kisahnya Berakhir di Pelukan Ibu
VISI.NEWS | JAKARTA - Riuh kendaraan berat yang melintas di kawasan industri Pulo Gadung, Jakarta Timur, biasanya hanya menjadi latar aktivitas para pekerja dan sopir truk. Namun di antara hiruk-pikuk tersebut, sebuah pemandangan tak biasa terekam kamera warga: seorang bocah kecil memunguti botol bekas di pinggir jalan.
Bocah itu adalah F, anak laki-laki berusia empat tahun yang hidup jauh dari gambaran masa kecil kebanyakan anak seusianya. Alih-alih membawa tas sekolah atau bermain dengan teman sebaya, F justru memanggul karung kecil berisi botol dan kardus bekas.
Video yang memperlihatkan aktivitas F memulung di kawasan Industri Pulo Gadung, tepatnya di Jalan Rawa Sumur, Kelurahan Jatinegara, Kecamatan Cakung, dengan cepat menyebar di media sosial. Dalam rekaman tersebut, seorang sopir truk tampak menyapa F yang sedang memungut botol plastik di pinggir jalan.
“Kamu tinggal sama siapa?” tanya sopir truk dalam video itu.
“Sama nenek,” jawab F singkat sambil menggenggam botol bekas yang baru dipungutnya.
Jawaban polos itu sontak membuat banyak warganet terenyuh. Di usia yang masih sangat belia, F sudah terbiasa membantu neneknya mengumpulkan barang-barang bekas untuk dijual kembali.
Setelah video tersebut viral, aparat kepolisian dari Polres Metro Jakarta Timur bergerak cepat menelusuri keberadaan bocah tersebut. Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Alfian Nurrizal bahkan turun langsung ke lokasi untuk memastikan kondisi F.
Dari hasil penelusuran, diketahui bahwa F tinggal di sebuah lapak pemulung bersama neneknya serta adiknya yang masih berusia tiga tahun, berinisial N. Lapak sederhana itu menjadi tempat mereka berteduh sekaligus pusat aktivitas sehari-hari.
Di tempat itu pula, F dan adiknya menjalani hari-hari mereka yang jauh dari kenyamanan masa kanak-kanak.
F ternyata hidup terpisah dari kedua orang tuanya. Sang ayah saat ini tengah menjalani proses hukum dan ditahan di Polres Bekasi. Sementara ibunya, SS, diketahui tinggal di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, setelah menikah kembali.
Situasi tersebut membuat F dan adiknya harus diasuh oleh sang nenek yang juga menggantungkan hidup dari pekerjaan memulung.
Mengetahui kondisi tersebut, Kombes Alfian Nurrizal bersama jajarannya mendatangi langsung lapak tempat F tinggal. Dalam kunjungan itu, suasana hangat terlihat ketika polisi menyapa kedua anak tersebut.
Kapolres bahkan sempat memberikan makanan ringan dan berbincang dengan keluarga mereka untuk memahami kondisi yang sebenarnya terjadi.
“Kami hadir bukan hanya sebagai aparat penegak hukum, tetapi juga sebagai bagian dari negara yang berkewajiban memastikan setiap anak mendapatkan perlindungan dan masa depan yang layak,” ujar Kombes Alfian Nurrizal dalam keterangannya, Jumat (13/3/2026).
Menurut Alfian, ketika aparat menemukan anak yang hidup dalam kondisi rentan, negara harus hadir memberikan solusi nyata.
Setelah melakukan pendataan dan koordinasi dengan berbagai pihak, kepolisian akhirnya menemukan jalan keluar bagi masa depan F dan adiknya.
Polres Metro Jakarta Timur kemudian berkomunikasi dengan Kapolres Sumedang serta menghubungi ibu kandung F melalui sambungan video call. Dalam percakapan tersebut, sang ibu menyatakan kesediaannya untuk kembali mengasuh kedua anaknya.
Proses penanganan selanjutnya dilakukan bersama Dinas Sosial agar semua prosedur berjalan sesuai aturan.
Kepala Satuan Pelaksana Sosial Kecamatan Cakung, Dhona Susanti, yang turut hadir dalam proses tersebut menegaskan bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab memastikan hak-hak anak tetap terpenuhi.
“Kami dari Dinas Sosial hadir sebagai perpanjangan tangan negara untuk memastikan anak-anak ini mendapatkan perlindungan dan hak-haknya terpenuhi,” kata Dhona.
Ia menambahkan bahwa seluruh proses dilakukan secara terkoordinasi agar masa depan F dan adiknya dapat terjamin dengan lebih baik.
Setelah seluruh proses administrasi dan penandatanganan berita acara penyerahan anak selesai dilakukan, F dan adiknya akhirnya dipulangkan ke rumah ibu mereka di Kabupaten Sumedang.
Sore itu, keduanya diantar langsung menggunakan kendaraan dinas Polres Metro Jakarta Timur bersama petugas Dinas Sosial DKI Jakarta.
Bagi F, perjalanan tersebut bukan sekadar perjalanan lintas kota. Itu adalah perjalanan menuju harapan baru, kembali ke pelukan ibunya, meninggalkan karung kecil yang selama ini ia bawa di jalanan kawasan industri.
Kapolres Metro Jakarta Timur memastikan bahwa proses ini tidak berhenti pada pemulangan saja.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Kapolres Sumedang serta Dinas Sosial setempat untuk memastikan kedua anak ini mendapatkan pendampingan setelah kembali ke lingkungan keluarganya,” kata Alfian.
Ia menegaskan bahwa negara harus hadir untuk memastikan setiap anak dapat tumbuh dengan aman, mendapatkan kasih sayang, dan memiliki masa depan yang lebih baik.
Kisah F menjadi pengingat bahwa di balik kerasnya kehidupan kota besar, masih ada anak-anak yang harus berjuang lebih cepat dari seharusnya.
Namun setidaknya kini, langkah kecil F tidak lagi mengarah ke tumpukan botol bekas di pinggir jalan, melainkan kembali menuju rumah, tempat yang seharusnya menjadi awal dari setiap masa kanak-kanak. @kanaya
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!