Uzbekistan Bidik Pusat Keuangan Digital Asia Tengah
VISI.NEWS — Uzbekistan tengah mempercepat transformasi ekonominya untuk menjadikan negara tersebut sebagai pintu gerbang investasi, teknologi, dan konektivitas keuangan di Asia Tengah. Agenda itu mengemuka dalam Silk Road Finance & Technology Forum 2026 yang mempertemukan ribuan pelaku industri keuangan dan teknologi dari berbagai negara.
Forum yang digelar pada 24-26 Agustus 2026 di CAEx, Tashkent, tersebut diselenggarakan oleh Central Bank of the Republic of Uzbekistan bersama Global Finance & Technology Network (GFTN) yang berkantor pusat di Singapura, serta didukung Ant International sebagai co-host.
Lebih dari 6.000 peserta dari 74 negara hadir dalam forum tersebut. Sekitar 200 pembicara dijadwalkan berbagi pandangan mengenai masa depan keuangan, teknologi, investasi, dan konektivitas regional.
Forum juga dihadiri lebih dari 25 investor dengan total aset yang dikelola mencapai sekitar 4 miliar dollar AS.
Agenda kemudian berlanjut pada 26 Agustus di Islamic Civilisation Centre melalui The Azimuth, program khusus yang membahas keuangan Islam dan kewirausahaan.
Bagi Uzbekistan, forum tersebut bukan sekadar pertemuan bisnis internasional. Pemerintah ingin menggunakan momentum tersebut untuk menunjukkan hasil reformasi ekonomi selama satu dekade sekaligus membuka peluang investasi baru.
Deputy Prime Minister sekaligus Minister of Economy and Finance Uzbekistan Jamshid Kuchkarov mengatakan reformasi struktural dalam 10 tahun terakhir telah mendorong pertumbuhan ekonomi yang kuat dan berkelanjutan.
Dalam periode tersebut, ukuran ekonomi Uzbekistan disebut telah meningkat tiga kali lipat.
Tahap berikutnya diarahkan pada pencapaian peringkat kredit investment grade, penyelesaian proses aksesi ke World Trade Organization (WTO), pengurangan lebih lanjut peran negara dalam perekonomian, serta penguatan reformasi berbasis mekanisme pasar.
Pemerintah berharap kebijakan tersebut dapat memperbesar peran sektor swasta dan memperdalam integrasi Uzbekistan dengan perekonomian global.
Langkah tersebut juga dimaksudkan untuk menciptakan peluang yang lebih besar bagi investor domestik maupun internasional.
Uzbekistan datang ke forum dengan sejumlah indikator ekonomi yang menunjukkan momentum pertumbuhan.
Produk domestik bruto (PDB) negara itu tumbuh 8,5 persen pada semester I-2026. Investasi asing mencapai 8,3 miliar dollar AS pada kuartal I-2026.
Sementara itu, lembaga pemeringkat Moody's menaikkan peringkat utang pemerintah Uzbekistan menjadi Ba2 pada Juni 2026.
Di sektor teknologi keuangan, pemerintah juga mulai membangun kerangka regulasi untuk mempercepat perkembangan fintech.
Presidential Decree PQ-359 dan National FinTech Strategy menjadi bagian dari agenda tersebut, dengan fokus antara lain pada open banking, pembayaran digital, dan inovasi sektor keuangan.
Uzbekistan menargetkan investasi fintech mencapai 1 miliar dollar AS pada 2030.
Perubahan perilaku masyarakat juga menjadi modal penting.
Adopsi pembayaran digital meningkat dari 39 persen pada 2021 menjadi 71 persen pada 2025. Dalam perkembangan terbaru, sekitar 57 persen transaksi pembayaran disebut telah dilakukan secara nontunai.
Angka tersebut menunjukkan bahwa digitalisasi keuangan tidak lagi sebatas agenda pemerintah atau perusahaan teknologi, tetapi mulai menjadi bagian dari aktivitas ekonomi masyarakat.
Gubernur Central Bank of the Republic of Uzbekistan Timur Ishmetov mengatakan Uzbekistan ingin membangun strategi fintech yang tidak hanya mengejar pertumbuhan transaksi digital.
Menurut dia, teknologi harus diterjemahkan menjadi nilai ekonomi yang berkelanjutan, meningkatkan persaingan, memperluas akses keuangan, sekaligus menjaga stabilitas dan kepercayaan publik.
Dalam pidatonya yang bertajuk "The Silk Road Initiative: Turning a Socio-Economic Heritage into Central Asia's Financial Innovation Corridor", Ishmetov menggunakan warisan intelektual dan perdagangan Jalur Sutra sebagai inspirasi bagi pembangunan sistem keuangan masa depan.
Ia memperkenalkan lima fondasi yang disebut sebagai Al-Jabr, Al-Muqabala, Zarkaynar, Saroy, dan Madrassa.
Al-Jabr diarahkan pada upaya mengisi kekurangan dalam ekosistem keuangan. Al-Muqabala menggambarkan kebutuhan untuk menyeimbangkan berbagai unsur agar tercipta ekosistem keuangan yang berkelanjutan.
Zarkaynar menggambarkan pembangunan pasar yang mempertemukan inovasi dengan peluang. Saroy berfokus pada pembangunan infrastruktur keuangan bersama, sedangkan Madrassa menekankan pengembangan sumber daya manusia.
Konsep tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai kebijakan dan infrastruktur nyata.
Central Bank of Uzbekistan mengembangkan regulatory sandbox, open-banking API, infrastruktur pembayaran, serta kerangka inovasi keuangan.
Pengembangan talenta juga menjadi perhatian. Uzbekistan menargetkan sebanyak 5.000 generasi muda mendapatkan pelatihan di bidang teknologi finansial pada 2030.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital Uzbekistan tidak hanya berorientasi pada pembangunan teknologi, tetapi juga menciptakan ekosistem yang mendukung inovasi dan tenaga kerja yang mampu mengembangkannya.
Chief Executive Officer GFTN Sopnendu Mohanty menilai Uzbekistan memiliki sejumlah modal untuk berkembang menjadi gerbang keuangan digital Asia Tengah.
Menurut dia, modal tersebut mencakup komitmen politik, reformasi regulasi, peningkatan adopsi digital, dan ambisi menarik investasi internasional.
Tantangan berikutnya adalah mengubah fondasi tersebut menjadi investasi, kemitraan, dan koridor keuangan yang menghubungkan Asia Tengah dengan perekonomian dunia.
Ambisi tersebut menjadi semakin relevan di tengah perkembangan industri fintech global.
Menurut Global Fintech Report 2026 yang disusun BCG dan FT Partners, pendapatan fintech global mencapai 504 miliar dollar AS pada 2025. Angka tersebut tumbuh 22 persen dan lebih dari empat kali lebih cepat dibandingkan pertumbuhan lembaga keuangan konvensional.
Sebanyak 74 persen perusahaan fintech publik terbesar juga tercatat telah menghasilkan keuntungan.
Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa fintech telah bergerak dari sektor teknologi yang relatif baru menjadi bagian penting dari sistem keuangan global.
Bagi Asia Tengah, kondisi itu membuka peluang untuk menarik sebagian pertumbuhan tersebut melalui inovasi keuangan, perluasan inklusi keuangan, dan pembangunan sistem pembayaran lintas negara.
Uzbekistan ingin mengambil posisi penting dalam proses tersebut.
Forum Silk Road Finance & Technology Forum 2026 membahas bagaimana transformasi domestik Uzbekistan dapat menjadi fondasi bagi sistem keuangan Asia Tengah yang lebih terhubung.
Agenda pembahasan mencakup pengembangan pasar yang menarik bagi investor, interoperabilitas sistem pembayaran, identitas digital, open API, tokenisasi, uang digital, penyelesaian transaksi lintas negara, hingga peran investor institusional jangka panjang.
Salah satu peluang terbesar Asia Tengah adalah kondisi infrastrukturnya yang relatif lebih muda dibandingkan sejumlah pasar keuangan maju.
Kondisi tersebut memberikan kesempatan bagi negara-negara di kawasan untuk membangun sistem baru tanpa sepenuhnya mewarisi keterbatasan infrastruktur lama.
Namun, digitalisasi domestik saja tidak cukup.
Tahap berikutnya adalah menghubungkan sistem keuangan antarnegara.
Sistem pembayaran lintas batas yang lebih cepat dapat mengurangi waktu penyelesaian transaksi dan menekan biaya pengiriman uang atau remitansi.
Pada akhirnya, sistem tersebut dapat menghubungkan pasar keuangan negara-negara Asia Tengah dengan kawasan yang lebih luas, termasuk Timur Tengah, China, Asia Selatan, dan Asia Tenggara.
Dengan kata lain, Uzbekistan ingin menghidupkan kembali gagasan Jalur Sutra dalam bentuk baru.
Jika Jalur Sutra pada masa lalu menjadi jalur perdagangan barang dan komoditas, versi digitalnya dapat menjadi jalur pergerakan uang, modal, teknologi, dan data.
Namun, ambisi tersebut menghadapi tantangan yang tidak kecil.
Konektivitas keuangan lintas negara membutuhkan lebih dari sekadar teknologi.
Regulasi yang dapat diprediksi, pasar yang lebih dalam, ketersediaan modal institusional, keamanan siber, serta tata kelola yang dipercaya investor menjadi faktor penting.
Teknologi seperti artificial intelligence (AI), tokenisasi, aset digital, dan sistem pembayaran baru hanya dapat berkembang secara berkelanjutan apabila dibangun di atas kerangka regulasi dan keamanan yang kuat.
Salah satu agenda yang mendapat perhatian khusus adalah perkembangan keuangan Islam.
Uzbekistan mulai memasuki babak baru setelah undang-undang perbankan Islam yang baru berlaku pada Juni 2026.
Aturan tersebut menciptakan kerangka hukum pertama bagi perbankan yang sesuai prinsip syariah di negara tersebut.
Kehadiran regulasi itu membuka peluang bagi Uzbekistan untuk masuk lebih jauh ke pasar keuangan Islam global yang nilai asetnya mendekati 6 triliun dollar AS.
Peluang tersebut tidak hanya menyasar pasar domestik.
Uzbekistan ingin membangun posisi sebagai penghubung antara Asia Tengah dengan pusat-pusat keuangan Islam di kawasan Teluk, Turki, Asia Selatan, dan Asia Tenggara.
Pembahasan mengenai peluang tersebut akan menjadi fokus The Azimuth pada 26 Agustus di Islamic Civilisation Centre.
Program tersebut akan membahas sejumlah kebutuhan utama untuk mengembangkan industri keuangan Islam, mulai dari standar, tata kelola syariah, likuiditas, infrastruktur digital hingga konektivitas modal lintas negara.
Bagi investor, pengembangan perbankan Islam memberikan alternatif baru untuk memasuki pasar Uzbekistan.
Sementara bagi pemerintah, sektor tersebut dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperluas sumber pembiayaan dan menarik modal dari negara-negara dengan industri keuangan syariah yang telah berkembang.
Di sisi lain, sektor usaha kecil dan menengah juga menjadi bagian penting dalam transformasi ekonomi Uzbekistan.
UMKM disebut menyumbang lebih dari separuh perekonomian negara tersebut. Karena itu, perkembangan fintech dan sistem pembayaran digital diharapkan tidak hanya menguntungkan perusahaan besar.
Akses terhadap pembayaran digital, pembiayaan, dan layanan keuangan yang lebih mudah dapat membantu usaha kecil masuk ke ekonomi formal serta memperluas pasar.
Dalam konteks regional, penguatan UMKM juga dapat membuka peluang perdagangan lintas negara.
Pelaku usaha tidak lagi hanya bergantung pada pasar domestik apabila sistem pembayaran, identitas digital, logistik, dan regulasi dapat semakin terhubung.
Karena itu, agenda konektivitas yang dibicarakan dalam forum tersebut memiliki dampak yang lebih luas daripada sektor perbankan.
Ia menyentuh perdagangan, investasi, teknologi, industri, dan mobilitas modal di seluruh kawasan.
Gubernur Timur Ishmetov pun mengundang investor dan inovator internasional untuk memanfaatkan Uzbekistan sebagai tempat mengembangkan bisnis dan teknologi.
Ia menegaskan bahwa Uzbekistan terbuka terhadap investasi, teknologi, keahlian, dan kemitraan jangka panjang.
Pesan tersebut memperlihatkan perubahan posisi Uzbekistan dalam peta ekonomi regional.
Negara tersebut tidak lagi hanya menawarkan pasar domestik, tetapi berusaha menawarkan akses menuju kawasan Asia Tengah yang lebih luas.
Jika reformasi regulasi, digitalisasi, pengembangan fintech, perbankan Islam, dan konektivitas lintas negara dapat berjalan secara konsisten, Uzbekistan berpeluang memainkan peran lebih besar sebagai pusat keuangan dan teknologi di Asia Tengah.
Pada akhirnya, visi yang dibawa dalam Silk Road Finance & Technology Forum 2026 bukan hanya tentang menjadikan Tashkent sebagai pusat aktivitas keuangan.
Lebih jauh, Uzbekistan ingin membangun sebuah koridor ekonomi digital yang menghubungkan modal dan teknologi dari berbagai penjuru dunia dengan pasar Asia Tengah.
Jalur Sutra versi baru itu tidak lagi diukur dari seberapa cepat barang berpindah dari satu kota ke kota lain.
Ia akan diukur dari seberapa cepat uang, data, teknologi, dan inovasi dapat bergerak melintasi perbatasan.
Dan Uzbekistan kini ingin berada di salah satu titik terpenting dari jalur tersebut.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!