Utilisasi Kapasitas Industri Dinilai Belum Pulih, Erna Sari Dewi Soroti Kontras Manufaktur Nonmigas 2025
VISI.NEWS | JAKARTA - Anggota Komisi VII DPR RI, Erna Sari Dewi, menyoroti adanya ketidaksesuaian (kontras) antara kinerja makro industri pengolahan nonmigas dengan kondisi utilisasi kapasitas produksi nasional pada 2025.
Erna mengakui bahwa secara makro, kinerja industri pengolahan nonmigas menunjukkan tren yang sangat positif. Hal ini tercermin dari realisasi investasi yang mencapai Rp552 triliun serta kinerja ekspor yang mencatatkan surplus sebesar 35,95 miliar dolar AS.
“Secara makro, ini tentu patut diapresiasi dan cukup membuat saya impresif,” ujar Erna dalam Rapat Kerja Komisi VII DPR RI bersama Menteri Perindustrian, Senin (26/1/2026).
Selain itu, indikator sentimen industri juga menunjukkan kondisi ekspansif. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur berada di atas level 50 pada November dan Desember, yang menandakan aktivitas industri berada dalam fase ekspansi. Sementara itu, Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Desember tercatat di level 51,9.
Namun demikian, Erna menilai terdapat indikator dasar yang belum menunjukkan pemulihan optimal, yakni utilisasi kapasitas industri. Ia mencatat rata-rata utilisasi kapasitas sepanjang Januari hingga November masih berada di kisaran 61,89, bahkan stagnan pada Oktober di level 61,2.
“Kalau kita bandingkan dengan negara lain seperti India dan Filipina, utilisasi kapasitas mereka sudah berada di level 75–78. Artinya, kita belum pulih sepenuhnya,” tegasnya.
Erna menjelaskan, sebelum pandemi COVID-19, utilisasi kapasitas industri Indonesia sempat berada di kisaran 73–74 pada 2023 dan meningkat menjadi 75-76 pada 2024. Namun hingga kini, angka tersebut belum kembali tercapai secara utuh.
Kondisi ini, menurutnya, mengaburkan optimisme terhadap surplus ekspor dan tingginya investasi. Pasalnya, rendahnya utilisasi kapasitas menunjukkan bahwa hanya sebagian kecil pelaku industri yang benar-benar mengalami ekspansi, sementara mayoritas masih beroperasi pada tingkat kapasitas ideal atau bahkan di bawah optimal.
Dampak lain yang disoroti adalah pada penyerapan tenaga kerja. Meskipun sektor industri tercatat menyerap sekitar 20 juta tenaga kerja, Erna menilai stabilitas ketenagakerjaan belum sepenuhnya terjamin.
“Utilisasi yang rendah cenderung berarti tenaga kerja masih underutilized. Secara angka memang bagus, tapi secara kualitas dan stabilitas masih perlu dicermati,” ujarnya.
Erna juga menyinggung berbagai program pemerintah pada 2025, seperti restrukturisasi mesin dan peralatan, transformasi digital, serta pemberian insentif fiskal. Namun ia menilai program-program tersebut belum menunjukkan dampak sistemik terhadap peningkatan kapasitas produksi nasional.
“Oleh karena itu, kami meminta penjelasan yang komprehensif terkait mengapa peningkatan investasi, ekspor, dan indikator ekspansif belum diikuti oleh pemulihan utilisasi kapasitas industri secara menyeluruh,” pungkasnya. @givary
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!