Usulan Gianni Infantino Soal Stadion “Pele” Tuai Tanda Tanya Global
ED
Editor
M Purnama Alam
Senin, 23 Februari 2026 | 18:00 WIB
VISI.NEWS|BANDUNG -Gagasan ambisius Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk meminta setiap negara menamai satu stadion dengan nama Pele memantik perdebatan luas. Alih-alih dipandang sebagai penghormatan universal terhadap legenda Brasil tersebut, ide itu justru dianggap sulit direalisasikan dan sarat persoalan yurisdiksi.
Infantino, yang terpilih pada 2016 menggantikan Sepp Blatter, sempat berjanji membuka era baru di tubuh FIFA. “Kita harus bangga dengan apa yang kita lakukan untuk FIFA. Saya ingin membuka era baru di FIFA di mana sepak bola menjadi pusat perhatian,” ujarnya dalam salah satu pernyataan awal masa jabatannya.
Namun, tiga tahun setelah wacana penghormatan global terhadap Pele digaungkan, belum ada implementasi nyata yang terlihat. Banyak pihak menilai gagasan tersebut lebih simbolik daripada operasional.
Persoalan Otoritas dan Realitas Lokal
Kritik tajam datang dari jurnalis The Guardian, Jonathan Wilson. Ia mempertanyakan mekanisme dan kewenangan di balik ide tersebut.
“Bagaimana tepatnya ini bisa terjadi? Apakah asosiasi sepak bola di tiap negara harus mengadakan undian besar untuk menentukan klub mana yang ‘dipaksa’ mengganti nama stadion? Dalam yurisdiksi seperti apa dia membayangkan federasi sepak bola memiliki hak semacam itu?” kata Wilson.
Ia juga menyoroti aspek historis dan kultural yang melekat pada nama stadion di berbagai negara. “Ini bukan seperti Stalin mengganti nama St. Petersburg setelah Lenin wafat. Mengapa negara manapun mau menamai stadionnya dengan nama pemain besar dari negara lain? Selamat mencoba meyakinkan Buenos Aires agar ide ini diterima,” ujarnya.
Pandangan tersebut mencerminkan realitas bahwa stadion bukan sekadar infrastruktur olahraga, melainkan simbol identitas lokal, sejarah klub, dan kebanggaan komunitas.
Simbolisme vs Implementasi
Dari sudut pandang politik sepak bola global, ide ini dapat dibaca sebagai upaya FIFA memperkuat warisan Pele sebagai ikon universal. Namun dalam praktiknya, keputusan penamaan stadion biasanya berada di tangan pemerintah daerah, klub, atau sponsor, bukan federasi internasional.
Tanpa landasan regulasi yang jelas dan tanpa konsensus lintas negara, gagasan tersebut berpotensi berhenti sebagai pernyataan simbolik semata.
Sepuluh tahun sejak Infantino menjabat, upaya mengembalikan citra FIFA memang terus berjalan. Namun usulan penamaan stadion atas nama Pele memperlihatkan bahwa di level global, penghormatan terhadap legenda tidak selalu mudah diterjemahkan ke dalam kebijakan konkret.@fajar
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!