Turki Bantah Kabar Relokasi Kantor Hamas ke Wilayahnya
Editor
Desi Rossilawati
Rabu, 20 November 2024 | 22:25 WIB
VISI.NEWS | TURKI - Turki menolak tuduhan bahwa Hamas, kelompok milisi Palestina, berpindah markas biro politik ke negara tersebut setelah dikabarkan diusir dari Qatar. Pada Senin (18/11/2024), sumber diplomatik Turki menyatakan kepada media bahwa berita tentang Ankara menjadi tempat baru bagi Hamas adalah tidak benar.
Mereka menegaskan bahwa meskipun anggota Hamas sering berkunjung ke Turki, tidak ada penempatan kantor resmi di Ankara, sebagaimana dilaporkan oleh Middle East Eye (MEE).
Sebelumnya, media Israel, Kan, melaporkan bahwa anggota Hamas melarikan diri ke Turki setelah dituding diusir dari Qatar. Beberapa outlet berita menyebut pengusiran itu terjadi karena Hamas tidak bersedia melanjutkan negosiasi mengenai gencatan senjata dan pembebasan sandera di Gaza.
Amerika Serikat juga dilaporkan menjadi pihak yang mendorong Qatar untuk mengusir Hamas, mengingat bahwa kelompok ini beberapa kali menolak tawaran untuk menyelesaikan masalah sandera dan terlibat dalam eksekusi enam tahanan, termasuk seorang warga negara AS.
Dilansir dari The Times of Israel, seorang diplomat Arab juga mengonfirmasi bahwa para pejabat senior Hamas meninggalkan Doha, Qatar, minggu lalu dan menuju Turki. Sejak 2012, Qatar telah menjadi pusat kegiatan Hamas di luar negeri. Pemimpin biro politik Hamas yang terbunuh oleh Israel, Ismail Haniyeh, sebelumnya juga menjadikan Qatar sebagai markasnya.
Pemilihan Turki sebagai tempat baru bagi Hamas tidak terlepas dari hubungan yang memburuk antara Ankara dan Tel Aviv sejak Israel melancarkan serangan ke Jalur Gaza pada Oktober 2023. Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, dikenal sebagai pengkritik tajam tindakan Israel, yang dinilainya sebagai genosida, dan berinisiatif membawa Israel ke pengadilan internasional atas tuduhan kejahatan perang.
Minggu lalu, Erdogan menegaskan bahwa pemerintahannya sudah secara resmi memutuskan semua hubungan dengan Israel.
Walaupun Turki telah membantah rumor tersebut, pada hari yang sama, Amerika Serikat memperingatkan Ankara untuk tidak mengizinkan kehadiran pemimpin Hamas di wilayahnya. Juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, Matthew Miller, menyatakan bahwa individu-individu tersebut sedang menghadapi dakwaan di AS dan tidak layak untuk hidup nyaman di tempat mana pun.
Sementara itu, Hamas membantah laporan soal pemindahan markas mereka ke Turki, menyebutnya sebagai "rumor yang berusaha disebarkan oleh Israel dari waktu ke waktu." @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!