Trump Tahan Kurdi dari Konflik Iran
Sejarah hubungan antara Amerika Serikat dan kelompok Kurdi di kawasan itu cukup panjang. Pada 1991, perlindungan udara Amerika Serikat di wilayah tersebut berperan dalam terbentuknya pemerintahan Kurdi semi-otonom di Irak yang berpusat di Erbil. Sejak saat itu, kelompok Kurdi sering menjadi mitra strategis bagi Washington dan sekutunya dalam berbagai konflik regional.
Kelompok Kurdi sendiri dikenal sebagai etnis terbesar di dunia yang tidak memiliki negara sendiri. Mereka tersebar di beberapa negara seperti Irak, Iran, Turki, dan Suriah. Karena itu, keterlibatan mereka dalam konflik baru dikhawatirkan dapat memicu ketegangan lintas negara di kawasan tersebut.
Di sisi lain, para pemimpin Kurdi di Irak dilaporkan masih berhati-hati untuk menentukan sikap. Menurut sumber yang mengetahui pandangan mereka, sejumlah tokoh Kurdi belum bersedia berkomitmen untuk terlibat dalam konflik yang secara langsung melibatkan Iran.
Ketegangan semakin meningkat setelah pejabat tinggi Iran memberikan peringatan keras terkait aktivitas kelompok Kurdi di perbatasan. Pada 5 Maret lalu, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Ali Larijani mengatakan bahwa Iran telah melakukan serangan terhadap kelompok-kelompok Kurdi di wilayah Irak.
“Iran tidak akan menoleransi gerakan separatis dalam bentuk apa pun,” kata Larijani, seraya memperingatkan bahwa pemerintah Teheran siap mengambil langkah tegas terhadap kelompok yang dianggap mengancam kedaulatan negara.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan pemerintah Turki. Ankara menilai organisasi yang mendorong separatisme Kurdi berpotensi mengganggu stabilitas kawasan dan mengancam keutuhan wilayah negara-negara di sekitarnya.
Sementara itu, sejumlah laporan menyebut beberapa faksi Kurdi mulai mempersiapkan kemungkinan operasi lintas batas menuju Iran. Meski demikian, para pengamat menilai kapasitas mereka masih terbatas untuk menghadapi kekuatan militer Iran secara langsung.
Pendiri sekaligus Presiden Middle East Research Institute yang berbasis di Erbil, Dlawer Ala’Aldeen, menilai kelompok Kurdi saat ini masih terpecah secara internal. Menurutnya, kondisi tersebut membuat mereka belum memiliki kekuatan yang cukup untuk menantang negara seperti Iran.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!