Trump Sulap Kripto Jadi Panggung Kuasa
VISI.NEWS | PALM BEACHÂ - Dunia kripto kembali diguncang, kali ini dari jantung kemewahan Mar-a-Lago, Florida. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggelar konferensi privat yang disebut sebagai “pertemuan paling eksklusif di dunia” di Palm Beach, mempertemukan elite industri aset digital, investor kelas kakap, tokoh publik, hingga pemegang terbesar token TRUMP. Di tengah sorotan soal konflik kepentingan dan anjloknya harga token tersebut, acara ini justru menegaskan satu hal: kripto kini bukan hanya urusan teknologi, tetapi juga panggung kekuasaan.
Konferensi tertutup di klub mewah Mar-a-Lago itu hanya dibuka untuk 297 pemegang terbesar token $TRUMP, menjadikannya bukan sekadar forum bisnis, melainkan ruang eksklusif bagi lingkar elite baru di era aset digital. Trump sendiri dijadwalkan menjadi pembicara utama, memperkuat kesan bahwa proyek memecoin bernama dirinya bukan lagi sekadar eksperimen pasar, melainkan bagian dari ekosistem politik-ekonomi yang lebih luas.
Acara ini menghadirkan nama-nama besar industri keuangan dan kripto global. CEO Tether Paolo Ardoino dijadwalkan membahas keterkaitan inklusi finansial dan dominasi dolar AS. Pendiri Ark Invest Cathie Wood membahas irisan kecerdasan buatan dan aset digital, tema yang kini menjadi medan baru perebutan inovasi. Hadir pula CEO Alchemy Nikil Viswanathan, investor Anthony Pompliano, hingga petinju legendaris Mike Tyson.
Bukan hanya konferensi teknologi, pertemuan ini dipandang sebagai simbol bagaimana industri kripto makin menyatu dengan kekuasaan politik. Sejak kembali ke Gedung Putih pada 2025, Trump dikenal agresif mendukung industri aset digital, termasuk melalui proyek memecoin TRUMP dan MELANIA yang erat dengan citra politik keluarga presiden. Biaya transaksi dari perdagangan dua token itu disebut telah menghasilkan jutaan dolar bagi entitas yang terkait dengan keluarga Trump.
Namun di balik glamor konferensi ini, kontroversi terus mengintai. Sejumlah legislator Demokrat sebelumnya telah melontarkan protes atas potensi konflik kepentingan, mempertanyakan bagaimana seorang presiden bisa mendorong regulasi pro-kripto sambil di saat yang sama memiliki token yang diperdagangkan publik. Kritik itu kembali menguat karena acara ini dinilai mempertemukan akses politik, kekayaan digital, dan potensi keuntungan pribadi dalam satu panggung.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!