Trump: “Saya Ingin Tidak Menyerang Iran, Tapi Kadang Harus”

ED
Sabtu, 28 Februari 2026 | 14:05 WIB
Bagikan
Trump: “Saya Ingin Tidak Menyerang Iran, Tapi Kadang Harus”

VISI.NEWS | BANDUNG Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, menyatakan bahwa dirinya sebenarnya tidak ingin menggunakan kekuatan militer untuk menyerang Iran, namun mengakui opsi tersebut tetap terbuka di tengah kebuntuan negosiasi terkait program nuklir Teheran.

“Saya ingin tidak menggunakannya (militer), tapi kadang Anda memang harus melakukannya,” kata Trump kepada wartawan di luar Gedung Putih, Jumat waktu setempat.

Meski demikian, ia menegaskan belum ada keputusan final.

“Kami belum membuat keputusan akhir. Kita lihat saja apa yang terjadi. Kami akan berbicara lagi hari ini. Akan ada pembicaraan tambahan,” ujarnya.

Pernyataan Trump mencerminkan meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran setelah Iran dinilai tidak memenuhi tuntutan Amerika Serikat untuk membatasi program nuklirnya.

“Kami tidak senang dengan cara mereka bernegosiasi. Mereka tidak boleh memiliki senjata nuklir,” tegas Trump.

Ia juga menyampaikan kekecewaannya atas sikap Iran dalam perundingan.

“Saya tidak senang mereka tidak bersedia memberikan apa yang harus kami miliki,” katanya.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan konflik berkepanjangan di Timur Tengah jika Amerika benar-benar menyerang Iran, Trump mengakui adanya risiko.

“Saya kira Anda bisa mengatakan selalu ada risiko,” ujarnya.

Meski demikian, ia tetap membuka pintu diplomasi.

“Akan sangat luar biasa jika mereka bernegosiasi dengan sungguh-sungguh, dengan itikad baik. Sejauh ini mereka belum sampai ke sana,” tambahnya.

Upaya meredakan ketegangan terus dilakukan. Menteri Luar Negeri Oman, Badr al-Busaidi, yang menjadi mediator dalam perundingan tidak langsung antara AS dan Iran, bertemu dengan Wakil Presiden AS JD Vance serta sejumlah pejabat Amerika di Washington. Pemerintah Oman menyatakan pertemuan tersebut membahas negosiasi tidak langsung yang disponsori Kesultanan Oman dan berbagai upaya diplomatik untuk mencapai kesepakatan yang adil dan berkelanjutan terkait isu nuklir Iran.

Dalam unggahannya di platform X, al-Busaidi menyatakan optimisme.

“Saya berterima kasih atas keterlibatan mereka dan menantikan kemajuan yang lebih lanjut dan menentukan dalam beberapa hari ke depan. Perdamaian berada dalam jangkauan kita,” tulisnya.

Namun saat ditanya dalam wawancara apakah ada kemungkinan serangan terjadi dalam waktu dekat, ia menjawab, “Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu, karena saya tidak tahu.”

Ia menambahkan, “Saya pikir Presiden Trump benar-benar bersemangat untuk mencapai kesepakatan. Ia ingin solusi diplomatik, dan itulah yang sedang kami upayakan.”

Di sisi lain, Trump dalam pidatonya di Corpus Christi, Texas, kembali menegaskan bahwa pemerintahannya menghadapi keputusan besar.

“Kami memiliki keputusan yang sangat besar,” katanya. Ia menuding Iran sebagai negara yang selama puluhan tahun terlibat dalam aksi kekerasan.

“Kami ingin membuat kesepakatan yang bermakna. Saya lebih memilih melakukannya dengan cara damai,” ujar Trump, meski tetap menyebut pemerintah Iran sebagai “orang-orang yang sangat sulit dan berbahaya.”

Ketegangan juga tercermin dari langkah-langkah pengamanan yang diambil Washington. Kedutaan Besar AS di Yerusalem mengizinkan staf pemerintah non-darurat beserta keluarga mereka untuk meninggalkan Israel karena risiko keamanan. Sementara itu, kapal induk raksasa Amerika, USS Gerald R. Ford, dilaporkan telah tiba di lepas pantai Israel.

Selain itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dijadwalkan mengunjungi Israel pada awal pekan depan untuk membahas isu Iran dan dinamika kawasan. Situasi ini menunjukkan bahwa meskipun diplomasi masih berjalan, bayang-bayang konfrontasi militer tetap membayangi hubungan Amerika Serikat dan Iran. @kanaya

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.