Trump Klaim Iran Beri “Hadiah Besar” Terkait Selat Hormuz
VISI.NEWS | WASHINGTON - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan pernyataan mengejutkan dengan menyebut Iran telah memberinya “hadiah yang sangat besar” terkait situasi di Selat Hormuz. Pernyataan tersebut disampaikan Trump kepada wartawan di Gedung Putih, Washington, dan langsung memicu spekulasi luas mengenai perkembangan terbaru konflik di kawasan Timur Tengah.
Trump mengungkapkan bahwa “hadiah” tersebut memiliki nilai yang sangat besar dan berkaitan dengan sektor minyak dan gas. “Mereka memberi kami hadiah, dan hadiah itu tiba hari ini. Nilainya sangat besar,” ujar Trump, menambahkan bahwa hal itu meningkatkan keyakinannya bahwa pihak yang diajak berkomunikasi di Iran adalah pihak yang tepat untuk mengakhiri perang.
Pernyataan tersebut, dikutip dari Arab News, Rabu (25/3/2026), muncul sehari setelah Trump secara tak terduga menunda rencana serangan terhadap fasilitas pembangkit listrik Iran. Ia juga mengungkapkan bahwa pemerintah Amerika Serikat tengah melakukan negosiasi dengan pihak-pihak tertentu di Iran, meskipun tidak merinci siapa yang terlibat dalam pembicaraan tersebut.
Namun, pemerintah Iran membantah adanya keterlibatan dalam negosiasi apa pun dengan Amerika Serikat untuk mengakhiri konflik yang kini telah memasuki pekan keempat. Ketegangan ini turut berdampak pada terganggunya pasokan minyak global, terutama yang melewati Selat Hormuz—jalur vital perdagangan energi dunia.
Dalam keterangannya, Trump menyebut tindakan Iran tersebut sebagai sesuatu yang “luar biasa” dan menjadi sinyal positif dalam upaya diplomasi. Ia bahkan menilai bahwa langkah itu menunjukkan adanya itikad baik dari pihak tertentu di Iran.
Trump juga menegaskan bahwa “hadiah” yang dimaksud tidak berkaitan dengan program nuklir Iran. Meski demikian, ia kembali mengklaim bahwa pihak Iran telah menyatakan tidak akan memiliki senjata nuklir, sebuah pernyataan yang belum dikonfirmasi secara independen.
Saat ditanya apakah “hadiah” tersebut berkaitan dengan pembukaan kembali arus lalu lintas minyak di Selat Hormuz, Trump mengiyakan. Ia menyebut bahwa hal itu berhubungan langsung dengan kelancaran arus energi di kawasan tersebut.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!