TRAVELING | Salam dari Kota Cox’s Bazar, Bangladesh
Power acceptance test adalah pengujian untuk mendapatkan hasil kelayakan engine untuk beroperasi dengan parameter yang meliputi putaran (speed), daya (shaft horse power), aliran bahan bakar (fuel flow), specific fuel consumption, temperature. Tahapan dalam power acceptance engine meliputi engine shipping, engine installation on test bed, prior to start check in control room, test check for tester and principal tester. Kemudian dilakukan engine test general dengan urutan compressor washing, test oil circulation, fuel and oil leaks, ground idle, running in/power acceptance engine (dengan parameter speed, shaft horse power, fuel flow, specific fuel consumption, dan temperature). Selanjutnya dilakukan acceleration and decelaration, vibration survei, oil consumption test, test bed calibration.
Tahap berikutnya, dilakukan engine receiving condition check untuk diserahkan kembali ke customer. Dari hasil pengujian dapat diketahui bahwa engine Dart 7 MK 534-2 dikatakan layak terbang dengan parameter SHP telah mencapai batas minimal yaitu 1880 SHP dan Temperatur serta Specific Fuel Consumption-nya tidak melebihi batas maksimal yang telah diizinkan yaitu 790°C dan 0.68500pph/Hp, dengan nilai efisiensi pada saat kondisi take off yang didapat adalah 27.8% dan nilai tersebut dikatakan masih efisien menurut standar. Dengan demikian, dapat diputuskan bahwa engine Dart7 MK 534-2 layak untuk terbang atau dalam kategori Acceptance untuk beroperasi.
Perlu diketahui juga bahwa banyak negara yang mengklaim diri sebagai produsen pesawat terbang, tetapi engine pesawatnya hanya dikuasai oleh segelintir perusahaan, atau tepatnya 'dimonopoli' oleh tiga perusahaan saja. Mesin jet ini kemudian banyak dipakai oleh perusahaan-perusahaan pembuat pesawat udara seperti Boeing (AS), Airbus (Eropa), Embraer (Brasil), Bombardier (Kanada), Shukoi (Rusia), Comac (China), Cesna (AS), Fokker (Belanda), hingga ATR (Italia). Boeing maupun Airbus sendiri kerapkali membebaskan pembeli pesawatnya untuk memilih sendiri mesin jet yang akan digunakan. Itu sebabnya, meski banyak pesawat yang beredar dengan jenis yang sama seperti Airbus A330 maupun Boeing 737, namun memiliki mesin yang berbeda-beda.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!