Transplantasi Ginjal Babi ke Manusia: Harapan Baru, Tantangan Baru
Penelitian menemukan bahwa pada minggu pertama pascaoperasi, tubuh pasien mengenali ginjal babi sebagai benda asing dan memicu penolakan seluler yang dimediasi limfosit T. Penolakan ini berhasil dikendalikan dengan imunosupresan. Namun, sistem imun bawaan tetap aktif, terutama pada monosit dan makrofag, menandakan peran besar imun bawaan yang selama ini kurang diperhitungkan.
Menariknya, penolakan tersebut tidak terdeteksi melalui tes darah konvensional. Sebaliknya, kerusakan ginjal teridentifikasi melalui deteksi fragmen DNA bebas sel dari donor babi (donor-derived cell-free DNA/dd-cfDNA) dalam darah pasien. Temuan ini membuka peluang penggunaan dd-cfDNA sebagai biomarker sensitif dan noninvasif untuk memantau penolakan transplantasi secara real time.
Para peneliti menilai temuan ini krusial untuk masa depan xenotransplantasi. Dengan pemantauan yang lebih sensitif dan pendekatan imunologi yang lebih menyeluruh, transplantasi organ dari hewan ke manusia berpotensi menjadi solusi berkelanjutan bagi jutaan pasien gagal ginjal, termasuk di Brasil yang setiap tahunnya mencatat ribuan kebutuhan transplantasi ginjal.
@uli
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!