Transaksi Perdagangan Shiba Inu Melejit dan Terlihat Lebih Stabil
VISI.NEWS | BANDUNG - Dalam 24 jam terakhir, token Shiba Inu (SHIB) mengalami lonjakan aktivitas perdagangan yang signifikan di jaringan Base, dengan volume perdagangan mencapai \$13.930 USD dan kenaikan harga sebesar 77,48%. Berdasarkan data DEXTools per 26 Juni 2025, harga SHIB berada di angka \$0.000000000813, mencerminkan minat baru yang kembali meningkat terhadap aset meme coin ini di kalangan trader ritel.
Secara teknikal, lonjakan tersebut juga ditandai oleh tingginya jumlah transaksi yang tercatat sebanyak 19.665 kali dalam sehari. Aktivitas ini didorong oleh 559 aksi beli dan lebih dari 19.000 aksi jual, menunjukkan dinamika pasar yang padat namun cenderung terkonsolidasi dalam jangka pendek. Meski tekanan jual mendominasi, para analis melihat kestabilan harga SHIB mulai terbentuk dari support baru di kisaran \$0.0₉81.
Menurut pengamat kripto yang biasa disapa Alex Buba, kondisi ini menggambarkan adanya fase akumulasi yang kuat. “Walaupun secara nominal SHIB masih memiliki nilai mikro, namun stabilitas pada volatilitas 2,53 dan performa mingguan yang melonjak 233% memperlihatkan bahwa token ini tidak lagi hanya dikendalikan oleh hype, melainkan mulai mendapat tempat dalam strategi short-term trading yang sistematis,” jelas di Bandung, Kamis (26/6/2025).
Kondisi pasar yang mulai lebih rasional terlihat dari pergerakan harga yang tidak liar, meskipun lonjakan volume terjadi. Dalam waktu 6 jam terakhir saja, harga SHIB naik lebih dari 20%. Ini menunjukkan bahwa likuiditas sebesar \$5.500 yang tersedia di pasar cukup efektif menjaga kestabilan harga tanpa gejolak besar, sesuatu yang jarang terlihat dalam meme coin sekelas SHIB.
Pasokan token SHIB yang beredar saat ini tercatat mencapai 679,84 triliun dari total suplai yang sama, artinya seluruh koin telah berada di pasar. Dengan market cap sebesar \$552.960, kapitalisasi pasar ini memberikan gambaran adanya distribusi token yang cukup merata. Hal ini menjadi perhatian investor yang lebih berhati-hati terhadap risiko sentralisasi.
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!