Tradisi & Kebaruan: West Java Contemporary Dance

ED
Rabu, 26 November 2025 | 06:55 WIB
Bagikan
Tradisi & Kebaruan: West Java Contemporary Dance

Membaca Jejak Pencak Silat dalam Koreografi Kontemporer Jawa Barat” bukan hanya sebatas sebuah tema, tetapi juga sebuah upaya untuk menelusuri bagaimana warisan gerak tradisional dapat menemukan ruang baru dalam praktik seni pertunjukan masa kini. Dalam konteks tari kontemporer, pencak silat tidak lagi dipandang sekadar rangkaian jurus atau teknik bela diri, tetapi sebagai sumber estetika, etika, dan filosofi yang dapat memperkaya penciptaan artistik. Melalui pembacaan ulang terhadap struktur gerak, ritme tubuh, dinamika ruang, serta nilai-nilai yang terkandung di balik setiap pukulan dan elakan, para koreografer berusaha menjembatani tradisi dan kebaruan tanpa memutus akar kulturalnya.

Dr. Alfiyanto juga menjelaskan bahwa Proses kreatif ini kemudian memberi dampak penting bagi dunia pendidikan pencak silat, khususnya bagi para murid di paguron. Ketika pencak silat dihadirkan dalam karya kontemporer, para murid tidak hanya melihat tradisi mereka dihormati, tetapi juga memahami bahwa silat adalah warisan hidup yang dapat terus berkembang.

Mereka belajar bahwa setiap gerak memiliki sejarah, makna, dan konteks, serta dapat menjadi sumber inspirasi untuk menciptakan karya baru. Lebih dari itu, murid-murid paguron mendapatkan nilai edukatif berupa wawasan bahwa seni bela diri bukan hanya tentang kekuatan fisik, melainkan tentang kepekaan estetis, kedisiplinan, kerja sama, dan kemampuan membaca zaman. Interaksi mereka dengan dunia tari kontemporer mengajarkan keterbukaan berpikir, apresiasi terhadap seni lain, dan kemampuan melihat tradisi sebagai sesuatu yang dinamis.

Dengan demikian, membaca jejak pencak silat dalam koreografi kontemporer bukan hanya membicarakan karya seni pertunjukan, tetapi juga membangun jembatan pengetahuan bagi generasi muda, bahwa identitas budaya dapat menjadi fondasi untuk berkarya, berinovasi, dan menghadapi perubahan zaman dengan percaya diri.

Lebih jauh, festival ini mendorong peserta untuk tidak hanya membaca pencak silat secara formalistik, tetapi juga secara konseptual. Mereka diundang untuk menafsirkan ulang gerak, tubuh, ruang, narasi, hingga nilai filosofis yang terkandung dalam tradisi silat, sehingga melahirkan ekspresi artistik yang orisinal dan bermakna. Pendekatan ini membuka peluang kreatif untuk memadukan ruh silat dengan ruh zaman—memberi nyawa baru pada tradisi tanpa mengaburkan esensi yang menjadikannya khas.

Halaman :

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.