TPSS Gedebage Perkuat Komposting, Mesin Rotary Kembali Diaktifkan

ED
PN
Kamis, 20 Agustus 2026 | 16:03 WIB
Bagikan
TPSS Gedebage Perkuat Komposting, Mesin Rotary Kembali Diaktifkan

VISI.NEWS - Pengolahan sampah organik di Tempat Pengolahan Sampah Sementara (TPSS) Gedebage, Kota Bandung, terus dikembangkan dengan memperkuat kapasitas pengomposan. Langkah ini dilakukan untuk memastikan berbagai jenis sampah organik dapat diolah sesuai karakteristiknya, tidak hanya mengandalkan satu metode.

Selain menggunakan metode open windrow yang selama ini menjadi salah satu andalan, TPSS Gedebage juga menyiapkan pengoperasian kembali sejumlah mesin rotary komposter setelah pembangunan dan penguatan fasilitas Gedung Rotari rampung.

Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya mengurangi timbunan sampah organik sekaligus meningkatkan pemanfaatan hasil pengolahan agar kembali berguna bagi lingkungan dan masyarakat.

Supervisi Komposting TPSS Gedebage, Nandang Jumara, mengatakan karakteristik sampah organik yang masuk ke fasilitas tersebut sangat beragam. Tidak seluruh material organik cocok diolah menggunakan metode maggotisasi.

“Enggak semua organik itu bisa direduksi sama maggot. Kayak dedaunan, daun pisang, tanaman, itu pasti harus melalui proses kompos,” kata Nandang saat ditemui di TPSS Gedebage, Rabu, 19 Agustus 2026.

Menurut Nandang, sampah kebun, dedaunan, ranting hingga material tanaman berukuran besar membutuhkan penanganan berbeda. Karena itu, pengomposan menjadi metode penting untuk melengkapi pengolahan organik melalui maggot.

Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah organik membutuhkan kombinasi teknologi dan metode. Setiap jenis sampah diproses berdasarkan karakteristik dan potensi pemanfaatannya.

Open Windrow hingga Rotary Komposter

Saat ini, metode open windrow menjadi salah satu metode utama pengomposan di TPSS Gedebage. Sistem tersebut dinilai efektif untuk menangani sampah organik dalam jumlah besar karena prosesnya dapat dilakukan dengan menumpuk material organik dalam area pengolahan dan mengatur proses pembusukan secara bertahap.

Dalam kondisi normal, TPSS Gedebage mampu mengolah sekitar satu hingga dua ton sampah organik per hari melalui proses komposting. Kapasitas tersebut bergantung pada jumlah dan karakteristik sampah yang masuk.

Namun, pengelola masih menghadapi pekerjaan besar karena volume material organik yang harus ditangani sempat mencapai sekitar 150 meter kubik.

Untuk meningkatkan kemampuan pengolahan, TPSS Gedebage memiliki lima unit mesin rotary komposter. Mesin tersebut sebelumnya belum dapat digunakan secara optimal karena menghadapi persoalan pada bagian pondasi.

Nandang menjelaskan, ketika mesin diberikan beban, bagian bawah tempat mesin berada mengalami amblas. Kondisi tersebut membuat posisi dudukan mesin berubah sehingga pengoperasian tidak dapat dilakukan secara maksimal.

Kini persoalan tersebut telah ditangani melalui perbaikan fasilitas oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Lantai dan pondasi diperkuat serta dilakukan pembetonan agar mampu menopang beban mesin.

Setelah proses serah terima fasilitas selesai, pengelola berencana mengoperasikan kembali mesin rotary tersebut.

“Kalau sudah serah terima, mungkin saya akan fungsikan. Apa yang sudah dibeli pemerintah saya jalankan sesuai dengan fungsinya,” ujar Nandang.

Lima mesin rotary tersebut masing-masing memiliki kapasitas yang tercantum sekitar 1.000 liter. Namun berdasarkan pengalaman pengoperasian, kapasitas ideal yang digunakan berada di kisaran 250 liter per unit agar proses pengolahan dapat berjalan lebih optimal.

Dengan lima unit mesin tersebut, fasilitas rotary diharapkan menjadi tambahan kapasitas pengolahan sekaligus membantu mengurangi material organik yang menumpuk di TPSS Gedebage.

Pengoperasiannya nantinya akan berjalan berdampingan dengan metode open windrow dan dem komposter yang telah digunakan sebelumnya.

Penguatan fasilitas juga dilakukan melalui pembangunan area beratap. Kehadiran atap menjadi bagian penting karena proses pengomposan selama ini menghadapi kendala ketika hujan turun.

Ketika area pengolahan tidak terlindungi, proses produksi dapat terganggu dan kapasitas pengolahan menurun. Dengan adanya bangunan beratap, pengelola berharap proses komposting dapat berjalan lebih konsisten.

“Kalau kemarin enggak ada atap, waktu hujan kita enggak bisa berproduksi. Sekarang pakai atap, jadi non-stop. Enggak ada musim hujan atau kemarau, kita bisa produksi,” katanya.

Kompos Kembali ke Sawah dan Ruang Terbuka Hijau

Hasil dari proses pengolahan sampah organik di TPSS Gedebage tidak berhenti di lokasi. Kompos yang dihasilkan disalurkan kepada berbagai pihak yang membutuhkan, terutama instansi pemerintah dan kelompok yang membutuhkan dalam jumlah besar.

Kompos tersebut dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan ruang terbuka hijau, kebun, hingga kegiatan pertanian. TPSS Gedebage juga membuka peluang pemanfaatan kompos bagi petani, termasuk untuk kepentingan penelitian maupun penggunaan langsung di lahan pertanian.

“Biasanya off taker-nya sama instansi-instansi atau yang volumenya banyak,” tutur Nandang.

Pemanfaatan hasil pengolahan organik tersebut bahkan telah memberikan pengalaman menarik bagi petani di sekitar TPSS Gedebage.

Nandang menceritakan, kompos yang dihasilkan di kawasan tersebut pernah terbawa aliran air ketika terjadi banjir hingga masuk ke area persawahan. Setelah musim panen, petani melihat adanya peningkatan hasil produksi.

Pengalaman itu kemudian mendorong petani untuk mulai memanfaatkan produk pengolahan organik dari TPSS Gedebage, termasuk kompos dan kasgot yang dihasilkan dari proses maggotisasi.

Bagi pengelola, kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa sampah organik yang dikelola dengan baik dapat kembali memberikan manfaat kepada lingkungan.

Material yang semula dianggap sebagai limbah dapat dikembalikan ke tanah dalam bentuk produk yang memiliki nilai guna.

Selain komposting, TPSS Gedebage juga tidak mengabaikan sampah daun kering. Material tersebut memiliki karakteristik berbeda sehingga dikembangkan melalui proses karbonisasi.

Sampah daun kering diolah menjadi arang yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan bakar, termasuk untuk kebutuhan barbeque.

“Ini salah satu. Sampah itu enggak bisa dituntaskan satu metode. Sampah kebun, daun-daun kering, itu kita karbonasi jadi arang,” ujar Nandang.

Pola tersebut memperkuat prinsip bahwa pengelolaan sampah tidak dapat dilakukan dengan satu pendekatan. Sampah organik basah dapat diarahkan untuk maggotisasi, material tertentu diolah menjadi kompos, sedangkan daun kering dapat diproses melalui karbonisasi.

Dengan kombinasi berbagai metode tersebut, semakin banyak material yang dapat dimanfaatkan dan semakin sedikit yang berakhir sebagai residu.

Ke depan, pengelola TPSS Gedebage berharap seluruh fasilitas baru dapat segera beroperasi secara maksimal. Pengaktifan kembali mesin rotary, pemanfaatan area beratap serta optimalisasi metode open windrow diharapkan meningkatkan kapasitas pengolahan.

Bagi TPSS Gedebage, penguatan komposting bukan hanya soal menambah jumlah sampah yang mampu diolah setiap hari. Lebih jauh, sistem tersebut diarahkan untuk membangun rantai pemanfaatan sampah yang berkelanjutan.

Sampah organik yang datang ke TPSS tidak lagi dipandang sebagai material yang harus segera dibuang, melainkan sebagai bahan baku yang dapat diolah menjadi kompos, kasgot maupun produk lain yang memiliki manfaat.

Dengan kapasitas pengolahan yang terus diperkuat, TPSS Gedebage diharapkan mampu menjadi salah satu titik penting dalam upaya Kota Bandung mengurangi timbulan sampah dari sumbernya sekaligus memperpanjang siklus pemanfaatan material organik.

Pengalaman di Gedebage juga menunjukkan satu hal penting: tidak ada satu metode yang mampu menyelesaikan seluruh persoalan sampah. Maggotisasi, komposting, rotary komposter hingga karbonisasi justru perlu berjalan berdampingan agar setiap jenis sampah mendapatkan penanganan yang sesuai.

Pada akhirnya, keberhasilan pengelolaan sampah bukan hanya diukur dari seberapa banyak sampah yang berhasil dipindahkan, tetapi dari seberapa banyak yang mampu diolah, dikurangi dan dikembalikan menjadi sesuatu yang berguna.

Komentar (0)

Tulis Komentar

Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

VisiNews Club

Nikmati Berita Tanpa Batas & Benefit Eksklusif!

Dapatkan Kaos & Merchandise eksklusif setiap bulan dengan berlangganan Visi News.