Tolak Tawaran Dedi Mulyadi, Ayah dan Anak Memilih Bertahan di Kolong Rumah Sungai Cikapundung
VISI.NEWS | KOTA BANDUNG - Di bawah kolong rumah di tepi Sungai Cikapundung, Kota Bandung, berdiri sebuah tempat tinggal sederhana berukuran hanya 1x2 meter. Rumah kecil itu menjadi satu-satunya tempat berteduh bagi seorang ayah dan anaknya.
Kisah mereka mencuat saat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi meninjau lokasi banjir di kawasan tersebut. Tak disangka, di balik beton sungai yang kokoh, ada kehidupan yang berjalan di ruang sempit nan jauh dari kata layak.
“Bapak teh nyelepet di dieu? (Bapak tinggal di tempat sempit ini?)” tanya Dedi heran saat menuruni pembatas sungai, seperti terlihat dalam sebuah unggahan video akun YouTube miliknya @Kang Dedi Mulyadi Channel, Sabtu (22/3/2025).
Untuk memasuki rumah itu, Dedi harus menunduk lantaran pintunya terlalu rendah. Di dalam, hanya ada satu kasur dan sebuah TV tabung. Tak jauh dari sana, ada sumur kecil yang mereka gunakan untuk mandi sehari-hari.
Sang ayah bekerja sebagai tukang servis payung, sementara anaknya yang baru berusia 14 tahun sudah putus sekolah sejak lulus SD.
Saat berbincang dengan Dedi, bocah itu mengungkapkan keinginannya untuk segera menyusul kakaknya ke Jakarta demi bekerja.
Ibu mereka sudah lama pergi, meninggalkan ayah dan anak ini bertahan di rumah kolong yang rawan kebanjiran saat hujan deras mengguyur. Tak ada dinding pengaman, hanya benteng sungai yang menjadi pembatas tipis antara arus deras dan tempat tinggal mereka.
“Lamun banjir kumaha? (Kalau banjir gimana?)” tanya Dedi dengan nada khawatir.
“Lumpat kaitu (lari ke arah sumur),” jawab si ayah santai.
Menolak Pindah, Bertahan dengan Kebiasaan
Melihat kondisi tersebut, Dedi menawarkan bantuan agar mereka bisa pindah ke tempat yang lebih layak. Namun, tawaran itu ditolak dengan alasan mereka tak memiliki uang.
Tak menyerah, mantan Bupati Purwakarta itu pun menawarkan biaya kontrakan selama musim hujan. Namun, lagi-lagi si ayah menolak.
Menurutnya, air sungai selama ini hanya naik setinggi betisnya, dan ia sudah terbiasa dengan kondisi tersebut.
Baginya, yang lebih penting adalah bantuan untuk memperbaiki bagian depan rumah dengan tembok pengaman agar lebih kuat menghadapi banjir.
Dedi akhirnya menyerahkan sejumlah uang agar rumah kecil itu bisa sedikit diperbaiki. Bukan demi kenyamanan, tetapi setidaknya agar tempat tinggal mereka tak hanyut saat air sungai meluap.
Ironisnya, pemandangan rumah-rumah sederhana yang bertahan di tepi Cikapundung ini begitu kontras dengan kawasan Braga yang berada tak jauh dari sana ikon pariwisata Kota Bandung yang penuh dengan gemerlap dan hiruk-pikuk wisatawan. @desi
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!