TNI Bantah Keterlibatan dalam Dugaan Penyiksaan Anggota OPM
Editor
Desi Rossilawati
Senin, 16 Juni 2025 | 13:30 WIB
VISI.NEWS | JAKARTA - Tentara Nasional Indonesia (TNI) membantah tuduhan terlibat dalam penyiksaan dan pembunuhan anggota Organisasi Papua Merdeka (OPM), Abral Wandikbo alias Almaroko Nirigi. TNI menyatakan bahwa kematian Abral bukan akibat penyiksaan, melainkan karena melompat ke jurang saat melarikan diri dari proses interogasi.
Menurut Kepala Pusat Penerangan TNI, Mayjen Kristomei Sianturi, Abral sebelumnya ditangkap dalam operasi militer yang digelar secara profesional di wilayah Kodap III/Ndugama. Saat diinterogasi, Abral bersedia menunjukkan lokasi honai yang diduga menyimpan dua senjata api organik.
"Kemudian yang bersangkutan dibawa sebagai penunjuk jalan, namun saat di tengah perjalanan melarikan diri, kemudian prajurit TNI mengeluarkan tembakan peringatan. Tetapi yang bersangkutan tetap melarikan diri dan melompat ke arah jurang," jelas Kristomei, Senin (16/6/2025).
Karena kondisi geografis yang berbahaya, prajurit TNI tidak melanjutkan pengejaran. Kristomei juga menegaskan, Abral adalah bagian dari kelompok bersenjata separatis, sebagaimana dibuktikan melalui temuan senjata rakitan dan catatan yang identik dengan unggahan media sosialnya, serta foto dirinya membawa senapan M-16 A2.
Tuduhan penyiksaan mencuat setelah jenazah Abral ditemukan dalam kondisi mengenaskan, seperti adanya luka mutilasi dan tangan terikat, sebagaimana disebut oleh Amnesty International dan Koalisi Masyarakat Sipil. Namun, TNI membantah keterlibatan dalam perlakuan kejam tersebut.
“Prajurit TNI tidak akan melakukan kebiadaban seperti itu, justru yang melakukan kebiadaban seperti itu adalah gerombolan OPM selama ini," tegas Kristomei.
Ia menyesalkan pola narasi yang kerap dibangun oleh OPM untuk menuding TNI setiap kali ada korban dari pihak separatis. Kristomei juga mendesak organisasi HAM agar turut menyoroti kekerasan yang dilakukan OPM terhadap warga sipil, termasuk guru, tenaga kesehatan, dan para pendulang di pedalaman Papua.
“Ada baiknya Amnesty International, koalisi masyarakat sipil, juga menyelidiki intimidasi, pemerkosaan, dan kebiadaban terhadap guru serta tenaga kesehatan yang mengabdi di pedalaman Papua, serta kekejian terhadap pendulang yang dibunuh secara biadab oleh gerombolan OPM beberapa waktu lalu," pungkasnya. @ffr
Berita Terkait
Komentar (0)
Tulis Komentar
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!