VISI.NEWS | BANDUNG – Pemerintahan Presiden Donald Trump mengerahkan para pejabat tinggi keamanan nasionalnya ke Capitol Hill untuk meyakinkan anggota Kongres agar mendukung keterlibatan Amerika Serikat dalam perang bersama Israel melawan Iran. Langkah ini dilakukan di tengah desakan dari Partai Demokrat dan sebagian anggota Partai Republik yang meminta penjelasan rinci mengenai dasar hukum, intelijen, serta konsekuensi pendanaan operasi militer tersebut.
Upaya lobi ini berlangsung pada Selasa (3/3), ketika Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Menteri Pertahanan Pete Hegseth, Direktur CIA John Ratcliffe, serta Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine dijadwalkan memberikan pengarahan tertutup kepada seluruh anggota Senat dan DPR. Pemerintah berusaha membangun dukungan politik yang solid di tengah meningkatnya perdebatan mengenai kewenangan presiden dalam mengerahkan kekuatan militer tanpa persetujuan eksplisit Kongres.
Partai Republik memang menguasai mayoritas tipis di kedua kamar legislatif dan selama ini relatif mendukung agenda Trump. Namun konflik di Timur Tengah memunculkan kegelisahan, bahkan di internal partai presiden sendiri. Sejumlah legislator Republik bergabung dengan Demokrat dalam menyuarakan bahwa pengiriman pasukan ke luar negeri seharusnya tidak dilakukan tanpa persetujuan Kongres sebagaimana diamanatkan Konstitusi.
Anggota DPR dari Ohio, Warren Davidson, secara terbuka mempertanyakan arah kebijakan tersebut.
Dalam unggahannya di media sosial, ia menyatakan, “America First seharusnya menjadi penolakan terhadap mesin perang globalis. Saya menantikan untuk melihat intelijen yang menurut pemerintahan begitu meyakinkan, lalu memberikan suara.”
Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran bahwa keterlibatan militer berpotensi menyeret Amerika Serikat ke konflik berkepanjangan.
Kekhawatiran juga muncul setelah Rubio menyebut bahwa Amerika menyerang Iran karena Israel berencana melakukannya. Senator independen dari Maine, Angus King, mempertanyakan implikasi pernyataan tersebut dalam sidang Komite Angkatan Bersenjata.
“Apakah kita kini mendelegasikan keputusan paling sakral yang dapat dibuat dalam masyarakat kita, yakni keputusan untuk berperang, kepada negara lain?” ujarnya.
Isu pendanaan menjadi babak berikutnya dalam perdebatan. Pemimpin Mayoritas Senat dari Partai Republik, John Thune, serta Ketua DPR Mike Johnson, menyatakan masih terlalu dini untuk memastikan apakah diperlukan rancangan undang-undang tambahan guna membiayai operasi militer. Johnson mengakui bahwa topik tersebut telah dibahas dalam pertemuan sebelumnya dengan pimpinan Kongres.
“Masih ada detail yang harus ditentukan, berapa lama operasi ini berlangsung dan apa kebutuhannya,” katanya kepada wartawan.
Namun jika pemerintah mengajukan permintaan dana tambahan, perlawanan keras diperkirakan datang dari Demokrat. Pemimpin Demokrat di DPR, Hakeem Jeffries, menegaskan bahwa presiden seharusnya lebih dulu memperoleh persetujuan Kongres sebelum meminta alokasi anggaran perang.
“Ada ketentuan dalam Konstitusi bahwa anggota Kongreslah yang membuat keputusan apakah kita akan terlibat dalam konflik bersenjata seperti ini, dan itulah inti resolusi pekan ini,” ujarnya dalam konferensi pers.
Senat dijadwalkan melakukan pemungutan suara pada Rabu, disusul DPR pada Kamis, terkait resolusi kewenangan perang yang bertujuan membatasi Trump melanjutkan serangan terhadap Iran tanpa otorisasi legislatif. Meski Demokrat diperkirakan solid mendukung langkah tersebut, peluang resolusi untuk bertahan dari veto presiden dinilai kecil karena memerlukan dukungan dua pertiga suara di kedua kamar.
Dengan lobi intensif yang dilakukan tim keamanan nasional, Gedung Putih berupaya memastikan dukungan politik tetap terjaga di tengah pertanyaan mendasar mengenai legalitas, legitimasi, dan biaya perang. Perdebatan ini kembali membuka diskusi panjang di Washington tentang batas kewenangan presiden dalam membawa Amerika Serikat ke medan konflik bersenjata. @kanaya